Tampilkan postingan dengan label college madness. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label college madness. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juli 2014

HolaHalo

I'm supposed to proofread my thesis at this very second I write this blablabla, but all of sudden I remember that I have a page of secrets in another world called the house of "Cerita Kepompong" that I've neglected for decades.
So here I am trying to do up (though it isn’t much) this page of secret.
And now it's time for update biar kaya blog-blog lain yang udah lama nggak dijamah sama yang punya itu. 

Wuih gaya bet pake sok-sokan update, emang ada yang baca? 
Ada yang mau tau updatedan dari kamu gitu?


 I don't care. Saya sih nggak peduli ada yang baca atau nggak. Yang penting saya menjalankan petuah Pak Forrester "write like no one will read your writing".

Now, I'm working on my thesis. 
Sebagaimana mahasiswa tingkat dewa akhir lainnya, saya pun sedang membanting jari di keyboad  laptop tulang berusaha menyelesaikan skripsi saya. Dulu nih ya, duluuuuuuuu banget saya heran kenapa kok kalo ngerjain skripsi itu pada lamaaaaa bener bahkan pada nggak kelar kaya kakak sepupu dan om saya. Padahal mereka termasuk golongan orang dengan otak terberkati. Sekarang saya paham kenapa hal itu bisa terjadi. Banyak faktor ternyata, sodara sebangsa dan setanah air Indonesia raya. Contoh paling simpel nih ya, bisa jadi gara-gara kartun. Tau Adventure Time alias Fin and Jake kan? Petualang dua sahabat beda spesies bernama Fin and Jake itu kan seru tuh, nha itu bisa jadi distraction pas ngerjain skripsi. Buka laptop-kedengeran opening song-nya Adventure Time-tinggalin laptop-nonton tv dulu-kelar kartunnya-balik ke laptop-buka folder "skripsi"-nggak jadi ding, mending buka KamuTabung YouTube cari episode Adventure Time yang kemarin-kemarin. Itu contoh paling simpel. Yang lebih rumit? Ada! Diajak kerja dosen. Ini susah ini. Apalagi kalo yang ngajak dosen pembimbing. Mau nolak yo piyeeeee, yen di-iya-in kok yo beraaaat. Akhirnya pasrah waelah... haha
Dan dan dan…. kemarin saya menghadap penguasa ketua jurusan saya, konsul tentang sidang pendadaran. Daaaaannnn finally I have the lists of the names of the board of examiners di hari pertanggungjawaban amalan kuliah saya nanti. 
 Nanti? Emang kapan?
Soon.
Pas tau siapa penguji utama, langsung glek! Nelen ludah. Ini bapak dosen wuiiiiiih super sekali, sodara-sodara. Kesaksian dari mereka yang pas sidang diuji sama beliau adalah “wah, wooow banget. Aku “dikupas”.” Karena eh karena si bapak ini pemahaman akan teori linguistik terutama language acquisition-nya super mario bros! Makanya kalo nguji, nggak ada ampun deh. Belum sempat jawab satu pertanyaan, udah diberondong dengan pertanyaan lain. Dan yang lebih wow adalah r.e.v.i.s.i. mereka yang diuji sama bapak ini jadi pusing, lemah, lesu kehabisan tenaga justru pas ngerjain revisi. Tapi nggak apa-apa, pursuing for perfection isn’t easy, rite?
Udah ah sok-sokan apdetnya. Sebaiknya saya lanjut menyelesaikan misi mengakhiri masa mahasiswa tingkat dewa akhir saya. Emak pengen saya wisuda. Pak Kaprodi pengen saya yudisium. Mr. U pengen saya nggak kebanyakan wira-wiri ke Jogja sendirian. :)

Kamis, 31 Oktober 2013

KKNPPL-Afterwords


Birds of a feather flock together, the famous proverb says... but, it isn’t always. Sometimes, birds of different feather can flock together. And, that’s what I found when I was having my KKN-PPL.


Supposed my KKN-PPL teammates and I were birds, we were birds with different species, feather, and origin. We are much different. We come from different places, have different background, have different way of life and thinking. But, we share one thing in common, that is we have the same goal, passing the KKN-PPL.


21 sophomore students (and 4 additional students) with various background and barely knew each other grouped into a team and sent to do KKN-PPL in a school and distric somewhere in Sleman, out of expectation, we could make it well, very well I can say. During our about six month period of KKN-PPL, we’ve been through many things together.


At the very first, everyone was so bashful and somehow building wall around themselves to keep the others away. But, it was six months ago. Now, it feels like we’ve been friend since we’re born. Hha. Call me pleonastic then. Hhe. As time went by, everyone was getting into the others well and hopefully, we will still be friends ever after. J


And now, as the KKN-PPL has come to the end, all we have is memory. Memories of all the riddiculous things we’ve done, all the ups and downs we’ve been through, all the laughs, cry, smiles, and sweat, all the jokes and curses, and all things we’ve shared.


Dear you my teammates, thank you, everyone. Thank you... You, guys, are amazing..


Dear you my students, thank you for having me in your classes. Keep learning and pursue your dream. J









P.S: A friend of mine has nicely written about the 25 birds in the flock. Check it here 

Sabtu, 03 Agustus 2013

This Itsy-Bitsy


Someone kindly keeps reminding me to stop complaining.

Things I've been through lately call me to be thankful more and more.

The universe, through its mysterious way, has showed me that I've been blessed all the way.

But still, human. I keep complaining about things. About my inability to get back home. About weather. About banana and papaya. About schedule. And many other itsy-bitsy.

Well, things do not always go our way, right? Get bored of the routine, fed up with the traffic, tired of going around. Well, that's human. But, should we, at least, I keep complaining?

Someone told me, better go the way the universe  goes on. Well, yes. That's the best way of life, I guess. Go with the flow but make sure we don't lose the control.


Senin, 01 Juli 2013

July First


Hi, World..

It's me again. Gereeting you from a place that I'll visit the most for these coming three months.

This is my first day having PPL. What is PPL? Well, go Google it. Hhe

On this very first day, it's fun actually. And hopefully it'll last till the end of September when PPL comes to an end.

Well, that's all, I guess. Gotta help the librarian. Ciao!

Minggu, 10 Maret 2013

How They Address Me

It’s been pretty long since the last time I wrote something here. Well, time moves pretty fast then. And I... I keep postponing doing many things, I keep postponing writing here. I’m a dreadful procrastinator. Wasting time is my expertise. Pity, isn’t?
Well, it’s okay. Normal stuff, huh? Let me find a way to figure out how to deal with my not-so-good time management.
Many things I want to write here. However, I just don’t know where to begin.
I’m now a junior after the freshman and sophomore time back then. I’d like to say that to some extent everything’s gone by too fast, I think. I’ve missed several things, I think-again. But it’s okay.. No need to regret anything. Let bygones be bygones. My life isn’t yesterday, but today, huh?
Anyway, there is something.. It feels like sand in my shoes.
Why? Why do people tend to call me “mbak”?
This makes me uncomfortable. Do I look that old? Or what?
I just have no idea why people tend to call me “mbak”. Even those who are literally older than me, still, tend to call me “mbak”.
Such addressing term burdens me, indeed. I personally think such addressing term is suitable for calling those who are spiritually, emotionally mature. Me? I don’t think I deserve to be called so. I don’t think I meet any qualifications to be considered as the more mature one than anyone else. So, everyone, please.. call me Winda. No more mbak Winda. Thank you.

Sabtu, 05 Januari 2013

Dear All My Assignments


I did never sweat my assignments like this before. I used to welcome any homework, projects and assignments whole hearthly, happily. I could feel excitment rushing in my blood when I got homework or assignment to do. But now, it's all the way around. I don't know why but these few days, I can say, I'm sick of these assignments.

My mom and dad said "if you think you can make it, just do it. But if you think you can't, just relax, give yourself a break, don't push yourself too hard. Don't be mean to yourself."

I know it, mom, dad.. But I just can't relax while I have unfinished assignments. Note the 's' after the 'assignment'. See? It is plural, more than one, a lot actually.


Kamis, 04 Oktober 2012

Untuk Apa Beasiswamu?

Hayooo, siapa yang pake uang beasiswa buat foya-foya?”
Begitulah kira-kira bunyi tweet dari salah satu account informan beasiswa beberapa saat yang lalu. Baca tweet itu saya jadi merasa agak tersindir.
Alhamdulillah tahun ini saya dapat beasiswa PPA. Yang kuliah di kampus negeri, pasti familiar deh dengan beasiwa PPA. PPA stands for Peningkatan Prestasi Akademik. Beasiswa PPA adalah salah satu dari sekian banyak beasiswa yang ditawarkan kepada para mahasiswa di seluruh pelosok negeri.
Kenapa baca tweet itu saya jadi merasa agak tersindir?
Karena eh karena, saya melihat sepertinya terjadi pergeseran makna dari beasiswa PPA. Bukannya beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik, tapi jadi Peningkatan Penampilan Akademik. Bukannya buat bayar uang kuliah atau beli buku kuliah, kebanyakan penerima beasiswa (termasuk saya) justru pake uang beasiswanya buat keperluan lain-lain. Hehehe
Meskipun saya nggak pake uangnya buat foya-foya, misalnya dipake buat jajan Buavita Orange sampai mabok, saya pake uang beasiswa saya buat mendanai proyek (ceileh) saya yang lain. Bukannya buat bayar uang semesteran, saya pake uang beasiswa buat beli shoulder rest baru, stand part baru, rosin baru, dan bayar kursus yang nggak ada hubungannya sama kuliah sama sekali. Dan itu hanya menyisakan beberapa lembar uang warna merah bergambar gedung MPR-DPR dan Soekarno-Hatta saja dari uang beasiswa. Hehehe.
Maafkan Winda ya... Maaf...

Sabtu, 21 Juli 2012

EFH dan Semester yang Makin Menua

Blog ini sudah seperti rumah yang kelamaan ditinggal pemiliknya liburan ke dunia antah berantah. Maafkan aku blogku sayang... *niup-niup debu*

Ibarat rumah yang kelamaan ditinggal pemiliknya, sudah banyak sarang laba-laba di sana-sini. Kesannya kumuh ya? Tapi nggak juga kok. Kan bukan sarang laba-laba biasa, tapi sarang laba-laba si Spiderman Peter Parker yang ganteng itu. *bayangin Tobey Maguire gelantungan ke sana ke mari*

Anyway, saya belum nonton The Amazing Spiderman. Belum sempat, eh sekarang malah udah nggak tayang di bioskop. Sudahlaha, saya akan bersabar nunggu DVDnya keluar. Nggakpapa deh.
Akhirnya semester ini usai sudah.

Nggak terasa udah 2 tahun saya jadi anak kuliah. rasanya baru kemarin ngerasain deg-degannya nunggu pengumuman kelulusan, ngerasain hip-hip hura keterima di sana-sini, ngerasain betenya OSPEK, melongo diajak salaman Pak Rektor. Dan sekarang tau-tau udah masuk taun ke-3 aja. Huaaaaaaaa!

Sudahlah, mau nggak mau emang harus gini. Nggak bisa kan selamanya jadi freshman, nggak bisa selamanya jadi remaja belasan tahun. Mau nggak mau harus move on jadi senior, mau nggak mau harus jadi wanita muda. Nikmati aja hari-hari di mana usia masih belum overlapping angka bioskop.

Anyway, ada satu hal yang saya mau cerita. Ini tentang EfH alias English for Holidays.

EFH adalah salah satu annual program dari English Education Department Faculty of Languages and Arts Yogyakarta State University. Itu acara buat anak-anak usia 4 tahun-SMA. Mereka akan diajak belajar bahasa Inggris selama 10 hari. Bisa dibilang semacam short course gitu. acaranya nggak melulu belajar di kelas. Ada Campus Grand Tour, Barbeque, Field Trip, dll. Sik asik kan?

Selama saya kuliah 2 tahun ini, 2 kali pula saya terlibat di kepanitiaan EFH. EFH tahun 2011 dan EFH 2012. Gimana rasanya jadi panita EFH? Rasanya ruaaaarrrr binasaaaa!

Nano-nano, campur aduk pokoknya. Kerja underpressure, senang riang bertemu para peserta yang kyut-kyut, jungkir balik ke sana ke mari, stress dikejar deadline, enek diomelin, dan lain sebagainya. Tapi endingnya seneeeeeenggggg!

EFH 2012 ini baru aja selesai. Rasanya legaaaaa banget. Saya memang merasa kerja di EFH 2012 ini lebih berat dari 2011. Targetnya lebih tinggi dari EFH 2011.


Di EFH 2012 ini saya jadi sie Acara. Kerjanya lebih berat dari EFH 2011 yang lalu di mana saya jadi sie Konsumsi. Kalau tahun lalu saya hanya perlu memikirkan bagaimana memuaskan perut 70 orang panitia, kali ini saya harus mikirin bagaimana memuaskan ratusan orang selama 10 hari EFH. Tapi setiap kerutan di dahi, setiap tetes keringat telah terbayarkan dengan selesainya closing ceremony kemarin.


Banyak kesan yang tertinggal. No matter how tiring it was, I can’t help to smile everytime I remember any details of the 10-day EFH and the months of its preparation.

One thing for sure, I am gonna miss Shizuka, one of the participant. Sampai sekarang saya masih inget dengan jelas setiap kali Shizuka tanya “Miss... Miss... ini artinya apa ya?”. Saya pun masih ingat dengan jelas gimana ekspresinya setiap kali bilang “Miss... aku pulang dulu yaa... udah dijemput eyang...”. hahahaha

Shizuka, if only you read this writing, you have to know that I miss you, your “Miss Winda pernah ke luar negeri? Aku belum lho. Ntar ke luar negeri bareng ya”, your “Eyangku udah datang, Miss”.

Tahun depan sepertinya udah impossible buat saya terlibat EFH lagi. Tahun depan adalah waktunya KKN-PPL. But it’s okay. I think it’s enough for me having fun with those kids.


Rabu, 18 April 2012

23.23

Pas saya mulai ngetik ini, jam menunjukkan pukul 23.23.

Semua udah pada tidur.

Kost udah sepi.

Tapi masih banyak tugas yang belum saya kerjakan.

Proposal juga belum kelar.

Email-email juga belum dikirim.

Materi pun belum disusun.

Yang mana yang harus dikerjain duluan?

Ah, lapar. Ngantuk juga. Besok kuliah pagi.

Pengen ikut dialog jurusan, tapi tabrakan sama jadwal kuliah. Huuuuuuuhuh!

Rabu, 21 Maret 2012

A Prelude

Having been undergoing this even semester for almost 8 weeks, I think this semester will be the first crazy semester of all the coming. I really hope for the miracle coming up. Tons of book are waiting to be finished and all of them are the full of theory, no picture, and rich of jargon, that make me have to marry dictionaries as well as thesaurus in a very soon, ones. Free Emoticons

But, I somehow have such an unsaid enthusiasm indeed. No idea what it is actually. I started this semester with a sense of insecure. I was so afraid of I didn’t know what when I was about to leave home. I felt so uncertain, unclear. Everything was blurring in my eyes. Hopefully, it is just something like nausea due to the long holiday just passed by and won’t be followed by any kind of horrors. Aamiin.

Anyway, I had a weird dream that cannot be removed from my head for weeks. I was so tired that I was so sleepy after Maghreb. Then I decided to watch a movie to keep myself staying awake until Isya’. The movie was Rio, the one of which story is about the unable-to-fly Blue Macau. For the further explanation about the movie, go search for it. No matter how hard I try to fight over the sleepy, I fell asleep anyhow. I dreamed that I was the one like Blu, the main character. I was in a place I didn’t know where it was, sort of in the middle of nowhere. Everybody was flying away and left me alone unable to go anywhere with the cruel cockatoo chasing over me. I was so scared. When I woke up, I felt so tired and scared. Yes, it is ridiculous, but it is true! I don’t know whether it is the matter of the unable-to-fly Blue Macau or it is a warning from my deep down inside feeling that something goes wrong inside of me.

Anyway, I don't take that weird dream into account anymore. But, I still unable to get rid of it.

There is one thing that makes me feel like there is something in my shoes. That is about how comfortable I am being alone. Sometimes I feel that I am too individualistic. I always prefer to do everything myself. Often, I am more, so much more, comfortable when I am sole. Whether it is going somewhere alone or simply does my stuffs in my room alone. I know it may be unhealthy somehow. But, I am simply trying to avoid any kind of quarrel due to my habit that often different from most of my friends. Take an example, I prefer to have lunch myself instead of with my classmate. It is because I prefer to have no any kind of meat on my plate while most my friend prefer to have steak, soto, fried or baked chicken, and so on on their plate. For I am the minor one, I try to satisfy myself. Another thing is most of my friends love to hanging around after class while I cannot enjoy it. In short, I have different way of having fun to my friend’s. Thus, I choose to go home instead of join my friend going to a mall or coffee shop. There are still so many things that make me prefer to be alone, to be solely.

In short, I am simply trying to avoid screwing people’s life due to my different taste of having fun to them. Hence I prefer to have people left me alone.

Well, gotta go the dentist now, see you around then. Ciao!

Rabu, 01 Februari 2012

Grateful :)

Well, again, I am so thankful that I could go through some last weeks, well... January for sure. Alhamdulillah yaaaahhh...

Banyak yang sudah terlewati. Akhirnya UAS kelar juga, akhirnya liburan datang juga, akhirnya saya bisa main beberapa lagu, dan masih banyak lagi.

Tentang pekan ujian, sebenarnya ujian atau nggak sama aja sih, namanya pelajar ya wajib belajar, tapi karena suasana kampus yang jadi agak tegang gimana gitu, saya jadi agak keder juga. Dosen-dosen yang tiba-tiba jadi ramah dengan sapaan khas “Ya, bagi Anda yang merasa belum mengumpulkan salah satu tugas atau belum ikut salah satu kuis atau malah belum UTS, you have to see me very soon. For sake of your study, not mine. Jedaaarrrrr!

Misal satu semester ambil 22 SKS untuk 11 matkul, setidaknya dalam satu minggu kita disapa dengan sapaan yang tak serupa tapi sama persis adanya seperti demikian, siapa yang nggak jadi keder coba? Siapapun pasti jungkir balik, entah karena capek dengernya atau karena emang belum ngumpulin tugas ini itu atau belum ikut kuis atau karena sebab lain, belum ketemu gebetan may be. Heaven knows.

Dan yang saya rasakan adalah guncangan di batin terdalam sisi mahasiswa saya karena capek denger sapaan dosen yang demikian. Alhamdulillah saya dianugrahi rasa takut untuk bolos, jadi yah saya rajin ikut kuliah, entah emang bener-bener belajar atau sekedar bikin kotor baju. Dan hal itu berdampak baik ternyata. Karena nggak berani bolos, saya jadi masuk kuliah dengan presensi penuh, akhirnya tugas-tugas saya sampai di tangan dosen tepat waktu dan nggak perlu rodi ngejar deadline ngumpulin tugas di akhir semester. Sekali lagi, alhamdulillah yah...

Tugas-tugas saya udah beres, tapi tiap ketemu dosen selalu diiringi dengan kalimat maut tersebut, mau-nggak mau saya jadi berasa jleb! juga. Entah kenapa, syaraf departemen cuek saya tiba-tiba off menghadapi kalimat tersebut. Jadi kepikiran juga.
Mau makan, kuingat padamu... Mau tidur pun kuingat padamu... oh, tugaskuuuuu....

Hari-hari ujian saya cukup damai sejahtera sampai minggu ke-2 ujian tiba. Tiba-tiba saya dapat tugas tambahan ngerawat adek yang lagi sakit. Yak, saya jadi part time student, part time baby sitter. Biarpun adek saya nggak kecil-kecil banget, udah kelas 1 SMP, tetep aja yang namanya ngurus orang sakit itu repot.

Mikir final projects (ya, pake “s”, plural alias banyak), mikir ujian yang di beberapa matkul materinya geje, mikir adek udah minum obat belum, mikir adek ntar mau dikasih makan apa, mikir cucian belum diambil di laundry sebelah, mikir belum beli susu, mikir belum servis motor, and likewise, likewise, likewise. Ditambah adek saya iriiiiiiit bener ngomongnya, jadi berasa mau meledak kepala saya.

Tapi ya inilah seninya hidup. Seperti apa kata pepatah, the darkest time is just berfore the dawn. Begitu semua itu selesai, rasanya ummm... rasanyaaa.... kaya.... kaya selesai, the end.

And for January had just passed by, the results of the last semester racing has just been publiced. Akhirnya hasil bertempur satu semester sudah keluar. Jadi keliatan deh semester kemarin banyak dosa apa kagak.

Lha hasilmu gimana?

Alhamdulillah yah. Kagak bikin pengen makan kamus maupun diktat-diktat tebel pokoknya. Kerja sudah terbayarkan. Dan sekarang saatnya menikmati the holishitdays remain. Lalalayeyey!

Kalo di cerita-cerita princess-princess gitu jadi finally the princess met the prince and they live happily ever after. Semoga hari-hari ke depan beneran kaya cerita princess-princess itu, happily ever after.

Senin, 11 Juli 2011

Nggak Pulang-EFH-Dosen Semester 2-IPK

Sebenernya udah ngantuk stadium akhir, tapi dari tadi nggak bisa tidur. Dari pada nggak ada kerjaan, nyampah bolehlah.

It’s been a tiring week, I thought. Weekend nggak bisa pulang karena ada kepanitiaan. Kost sepi karena 3 biji The Nina’s pulang kampung dan sebiji yang lain bilangnya ada KP (Kuliah Praktik) di Karimun Jawa tapi saya yakin ini lebih ke acara refreshing setelah satu semester penuh dia dan teman-temannya benar-benar terhimpit oleh si perkasa Gajah Mada, dan bapak-ibu kost beserta dua prajuritnya jalan-jalan abisin liburan di Kudus. Akhirnya resmilah saya jadi single fighter penunggu kost di weekend kemarin setelah entah ke mana lenyapnya, si mbak-mbak yang bantu-bantu di kost juga menghilang begitu saja.

Setelah dua minggu berkutat dengan EFH, akhirnya Sabtu kemarin EFH kelar juga. Rasanya legaaaa banget itu acara buat anak-anak unyu-unyu beres juga dan alhamdulillah sukses. Apa itu EFH dan bagaimana jalan acaranya, kapan-kapan saya tulis deh, lagi nggak mood. Sekarang saya kasih fotonya dikit aja.


Yang jelas karena EFH saya jadi punya kenalan tukang sate, ibu-ibu muda dengan anak-anaknya yang unyu, kyut, dan imyut, ibu-ibu pemilik katering dan rumah makan, ibu-ibu tempat pesen snack, mas-mas tukang air mineral, dan tukang parkir Toko Merah, toko-toko snack di Jalan Magelang. Gaul banget kan saya?

Seminggu ini saya tidur nggak nyenyak. Apa pasal? Anjing piaraan tetangga sebelah brisik mulu kalo malem. Ini aja dia brisik juga. Tapi nggak apalah, seenggaknya saya ada temen melek.

Dan, besok adalah hari jumpa dengan dosen pembimping akademik dalam rangka nyusun KRS untuk semester 3. Tapi, tapi, tapi, nilai saya belum semuanya keluar. Rasa-rasanya semester 2 ini saya nggak maksimal. Lebih nggak maksimal dari semester 1 kemarin. Nggak berasa banget tau-tau udah ujian dan sekarang setelah libur saya terkorupsi oleh suatu hal, udah waktunya KRS baru. Sekitar dua setengah minggu sebelum ujian kemarin saya sakit, akhirnya saya bolos 1 minggu, sekalinya masuk udah hari terakhir kuliah, terus libur minggu tenang. Yang ada saya kaget, nggak siap. Terbengong-bengonglah saya. Hasilnya sekarang saya nggak heran kalo IP saya turun. Meskipun alhamdullillah turunnya nggak banyak, tapi yang tetap aja angkanya nggak seindah IP perdana saya begitu molek ayu cantik manis memukau *setidaknya* hati saya.

Dan satu hal yang ingin saya tuliskan di sini yang saya lewatkan di akhir semester pertama saya, yaitu nulis tentang kesan saya terhadap lecturer of the smester. versi saya Sebenarnya masih bisa saja saya tulis tentang semester pertama saya, tapi let’s just skip it. Kenapa? Karena itu udah cukup lama lewat. Saya nggak lagi merasakan cokelat, strawbery, selai kacang, keju, maupun mentega, cuma serasa roti tawar aja kalo nulis tentang itu.

Semua yang ada di sini adalah dari menara mercusuar (sudut pandang) saya.

Dan lecturer of the semester saya jatuh pada dosen Pendidikan Pancasila. *prokprokprok*

Saya tidak akan menyebutkan nama asli beliau, saya menyebut beliau Pak ****. Yang khas dari beliau adalah setiap ada mahasiswa yang mengajukan pertanyaan, beliau akan mengatakan, “Oke, ada yang bisa berpendapat?” Trus kalo udah ada yang berpendapat dan dirasa masuk akal, beliau akan berkata. “Saya rasa itu jawaban yang benar.” Lalu beliau akan mengatakan sesuatu sebagai tambahan.
Teman-teman saya bilang Pak **** sebenarnya nggak tau jawabannya, makanya beliau bilang “Ada yang bisa berpendapat?”. Mereka juga bilang kalo Pak **** sebenarnya nggak cukup berkapasitas sebagai dosen. Tapi, terserahlah apa kata mereka. Kalo menurut saya justru cara mengajar Pak **** adalah cara yang cukup bagus. Dari 1-10 ya 8,5-lah. Mungkin beliu penggemarnya Socrates yang mendidik orang lain tanpa membuat orang yang dididiknya merasa digurui. Socrates ngasih pelajaran dengan cara nanya mulu kaya karyawan baru. Lalu setelah anak didiknya kasih jawaban, Socrates baru ngomong yang isinya membenarkan atau menyalahkan atau memperbaiki atau melengkapi atau menekankan poin-poin pentingnya. Samalah sama tugas meng-highlight, men-bold, meng-italic, atau meng-underline di Ms. Word. Atau sebagai editor in chief gitulah.

Tapi apapun dan bagaimanapun keadaan, pembawaan, dan metode ajar seorang dosen, yakinlah beliau bertujuan baik. Kalopun hasilnya nggak baik, nggak seperti yang diharapkan, itu bukan salah dosennya, tapi kitanya. Entah kita yang terlalu menyepelekan, menganggap santai, atau ogah-ogahan. Jadi stop blamming the lecturer for the failure of having stright A! Inti dari kuliah, sekolah, maupun belajar kan bukan di nilai, tapi seberapa banyak ilmu yang diserap. Nilai itu cuma bonus.

Ada satu hal yang agak bikin seret pintu hati saya *halah*. Itu adalah saat ketika salah satu dosen saya tanya "Winda, PIN BB kamu berapa? Nanti saya add, biar gampang kalo saya mau hubungi kamu."

Preketek!

Saya jawab, "Maaf, saya nggak pake BB."

Beliau jawab, "Ah, hari gini kok nggak pake BB."

Preketek!

Pengen banget saya teriak, "Hari gini kok nggak pake IPhone!"

Emang it's a must gitu pake BB for sake of BBM?? Smartphone selain BB banyak! Dan terserah saya dong kalo mau pake selain BB. Dan lagi, kalo emang mau hubungi saya, silakan lewat jalur yang sejalan sama yang saya punya. Saya nggak sebel atau apa, cuma risih aja gitu. Kan gadget apa yang yang kita pake, terserah kita, suka-suka kita.

Udah malem, satpam komplek barusan udah lewat. Jadi cukup sekian dan terima kasih.


Kamis, 02 Juni 2011

Pengalaman Pertama Bolos Kuliah

Saya bolos kuliah selama 4 hari berturut-turut. Apa pasal? Saya sakit.

Sakit apa? Ah, tidak perlu dibicarakan. Saya takut kalo saya sebutkan sakit apa saya gerangan, saya ketahuan jadi orang penyakitan. Kalo ketauan saya penyakitan, saya khawatir fakultas kedokteran jadi kebanjiran mahasiswa karena pada pengen jadi dokter biar bisa ngobatin saya. mau muntah? Silakan.

Bolos selama ini adalah hal yang tabu buat saya. Tiba-tiba saya pasti jadi panas-dingin des-degan, lemes breasa kaya ayam tulang lunak tiap diajakin bolos kuliah. Tapi karena berberapa virus hina yang berkonspirasi menginvasi tubuh saya, akhirnya saya HARUS BOLOS kuliah.

Well, ternyata bolos itu TIDAK selamanaya MENYENANGKAN. Saya emang bukan mahasiswa teladan, tapi telatan, tapi saya tidak mengerti apa pentingnya bolos. Demi apa merelakan diri melewatkan kesempatan main di kampus, jajan donat sama yoghurt di kantin. Demi menuruti rasa malas? Temen-temen saya bilang mereka bolos karena 1. Belum ngerjain tugas, 2. Males. Untuk alasan pertama bisa diterima. Tapi yang kedua???? Oh, Doraemon sohibnya Nobita, bisakah kamu keluarin baling-baling bambu anti males???

Semales-malesnya saya kuliah, saya nggak pernah kepikiran untuk bolos. Bukan karena saya semangat 45 buat cari ilmu, niat jadi mahasiswa teladan, atau apa, tapi karena saya merasa ada lebih banyak hal yang bisa saya lakukan di ruang kuliah daripada di kost. Kalopun males kuliah, ya tetep aja berangkat, seenggaknya bisa berasa jadi artis *gagal* dengan bagi-bagi tanda tangan di daftar presensi, trus abis itu tidur kek, ngisi TTS, buka laptop manfaatin WiFi dari kampus, atau apalah.yang jalas I STRONGLY SUGGEST JANGAN PERNAH BOLOS DENGAN SENGAJA. Jangan menyakiti hati bapak-ibu nun jauh di kampung halaman sana. Meskipun kuliah males-malesan, tapi kalo tetep berangkat, pas bapak/ibu telepon kan bisa kasih jawaban faktual yang setidaknya memberikan secercah kehangatan di hati mereka.

Bapak : lagi ngapain, nak?

Anak : baru selesai kuliah, bapak. ini baru keluar kelas, mau ke kantin jajan donat, lapar.

Bayangkan, betapa cerahnya senyuman bapak ketika mendengar jawaban demikian dari anaknya! Si bapak senang, si anak pun nggak bohong. Yah, meskipun kulianya males-malesan, setidaknya si anak benar-benar MENGHADIRI KULIAH, bukannya main game di kost.

Selasa, 10 Mei 2011

Apa yang Kulakukan???

Besok ada ujian tapi ini bukannya belajar, saya malah blogwalking, buka-buka trending topic Twitter, dan nggak menyentuh buku sama sekali. Betapa mengerikan perilaku mahasiswa zaman sekarang. ckckckck

Ibunda, maafin anakmu ini. Tapi apa mau dikata, benar-benar sedang tidak mood belajar. Dipaksa-paksa juga nggak bisa, mentoktoktoktok.

Lagian si bapak dosen saya ini kemana aja nggak tau deh saya. Angin muson UAS udah mulai bertiup gini baru kasih UTS. Bapk dosen, oh bapak dosen, saya tahu Anda hanya berusaha mencari nafkah tambahan diluar kampus unyu saya demi sesuap nasi dan segenggam berlian untuk anak-istri bapak, tapi ya jangan meng-alay-kan UTS gini. Ini udah minggu keberapa, UTS baru diadain.

Stop jadi manusia extrovert, ayo liat kedalam diri sendiri. Sepertinya saya mengeluh-menggalaukan diri seperti ini emang karena saya kenyang duluan liat materinya. Apalah itu gunanya ngapalin macem-macem teori perkembangan yang foto tokoh-tokohnya aja masih pada item-putih kalo ntar nggak bisa nerapin. Ane kagang ngerti soal begonoan! Ya Allaaaaaah, hamba harus gimana???

Kenapa Psikologi Perkembangan harus sedemikan complicated, Ya Allah?? Kenapa??

Saya hanya berharap semoga ujian besok open-book. Biarpun ujian open-book selalu diikuti dengan ketiadaan jawaban di buku, seenggaknya besok pas ujian ada kerjaan bolak-balik buku, ngremas-ngremas buku, ataupun nyobek-nyobek buku, daripada cuma diem, bengong, kaya sapai ompong. Eh, emang sapi ompong bengong?


jadi pengen berenang kaya ikan

Sabtu, 30 Oktober 2010

College Happiness

Banyak ide di kepala saya, banyak hal yang pengen saya tulis, tapi karena saya sok sibuk beradaptasi dengan lingkungan baru, jadi nggak sempet nulis itu semua. Akhirnya ide yang sekian banyak itu justru bikin otak saya mampet.

Oke, ini posting pertama saya tentang dunia pendidikan formal saya, setelah saya aktif kembali di dunia pendidikan formal. UMP (FYI versi bapak saya) saya hibernasi dari dunia pendidikan formal selama 5 bulan. Terhitung sejak dynamic duo ujian SMA (UAN-UAS) selesai sampai OSPEK dimulai. Jadi, Winda......

Welcome to the hell.

Nggak ding. Nggak seneraka itu kok... atau mungkin belum seneraka itu?? We’ll find the answer, latter.

Jadi, here we go.....
Kuliah itu menyenangkan, teman teman.

Bersyukur deh kita yang bisa kuliah. Meskipun nggak semenyenangkan dunia abu abu, kuliah itu kalo makanan masih enjoyable dan eatable...

Temen banyak. Dari berbagai pelosok tanah air pula. Bahkan kadang diantara perwakilan dari berbagai pelosok bhineka tunggal ika itu terseliplah perwakilan dari negara negara yang benderannya nggak merah putih kaya yang biasa kita kibarin pas upacara. Kalo saya bilang, kampus itu lebih juara dari TMII deh. Karena nggak cuma dari Sabang sampai Merauke, tapi menjangkau negara lain. Mulai dari negara sekutu sampai negara seketombe ada semua.

Nggak perlu pake seragam. Emang sih ada beberapa perguruan tinggi yang masih mengharuskan mahasiswanya memakai seragam, tapi kebanyakan nggak. Kebayang kan betapa menyenanggaknnya bisa belajar dengan baju yang nyaman sesuai mood dan kenyamanan yang kita inginkan?

Bahkan bagi mahasiswa ilmu keolahragaan, mereka kuliah kaya mau tidur aja.
-____-

Pakai celana pendek dan t-shirt. What a beautifull world! Tapi itu berlaku cuma buat mereka yang nggak jaim, yang dare to be themselves. Kalo orang orang jaim, mereka yang menuhankan penampilan, jangan harap deh bisa secomfort itu. Mereka bener bener manjunjung tinggi prinsip dress to kill. Nggak peduli gimana rasanya tuh pakaian di badan, yang penting tetep gaya. Dodol banget deh kalo kata saya...

Mau masuk ato nggak, suka suka. Ini kuliah cuy! Lo mau masuk ya tinggal buka pintu , masuk, duduk dan dengerin dosen. Lo mau nggak masuk pun terserah. Nggak bakal ada guru yang nyari nyari, manggil ke ruang BP kaya jaman abu abu kemarin.

Nggak ada lagi seven to two. Jadwal kuliah nggak terlalu mengikat kalo saya bilang. Banyak jam jam kosong yang bisa kita gunakan untuk bermalas malasan ataupun mengasilkan emas. Kalo capek kita bisa tidur siang dulu di jam jam kosong antara jadwal kuliah. Kalo pengen manghasilkan emas ya kita kerja di jam jam kosong antara jadwal kuliah itu.
Sering saya, terutama kalo hari Jumat, balik ke kost trus tidur dulu ato makan dulu ato ngepel dulu ato nyuci piring dulu ato main ke mana gitu dulu ato ngapain dulu. Soalnya jadwal kuliah saya di hari nan katanya pendek itu begitu jauh jaraknya macam kutub utara-selatan, Anyer-Panarukan, Sabang-Merauke. Kuliah pertama di jam pertama, yaitu jam 7 pagi ting tong dan kuliah berikutnya di jam terakhir, yaitu jam 4 sore oklok oklok.

Kalo kamu jadi aku, gimana perasaanmu coba? Gimana? Hah, gimana??
-_____-

Ada juga yang pake jam jam transisi itu buat mandi. Whaatt?? Mandi?? Iye, mandi. Mandi bukan karena apa apa, tapi emang karena paginya belum mandi. Jadi entah karena kehabisan air, buru buru, males, ato apalah, berangkat kuliah belum mandi, trus pas jam transisi baru mandi di kost ato di kampus ato di kolam ato malah di empang terdekat. Tapi saya nggak pernah loh. Sumprit deh, nggak pernah saya. Saya rajin mandi pake sabun Bio** antisepic yang semerbak mewangi bikin saya berasa kaya tukang bunga keliling.

Daaannnn tugas tugas kuliah saya sejauh ini menyenangkan, sodara sodara. Saya kan kuliah nguplek uplek bahasa Pangeran William, jadi isinya ya Speaking, Pronunciation, Listening, Writing, Grammar, dkk, jadi tugas tugasnya adalah nonton film, bebas film apa aja yang penting pake bahasa Inggris, dan baca buku, buku apa aja yang penting pake Bahasa Inggris. Bener bener surga dunia deh. Tiap malam di ruang serba guna kost kan pada ngumpul tuh, pada ngerjain tugas ato belajar, saya pasti punya muka paling sumringah .

Di saat yang lain pada sibuk bikin laporan, saya sibuk dengerin lagu.
Di saat yang lain pada sibuk baca diktat, saya sibuk baca novel.
Di saat yang lain pada sibuk belajar buat kuis atau ujian, saya sibuk nonton film.

Hanya saja ada satu hal yang sedikit mengganggu saat ini, yaitu tugas Bahasa Asing (Bahasa Indonesia). Untuk bisa mengerjakan tugas mid semester itu saya harus membaca kurang lebih 24 artikel yang masing masing sepanjang (rata rata) 2 halaman folio yang tentunya isinya berat berat macam beras dikarungin, drum BBM, mercon 3kg, dll. Jereng, jereng deh nih mata.
Tapi rasanya saya jadi rada pinteran loh.

Dapat ilmu tamabahan gituh. Dan karenanya jugalah saya jadi jatuh cinta sama majalah Tempo. Nggak tau kenape yee, seneng aja gitu bacanya. Betah. Sekarang saya jadi lebih sering Tempongider dari pada blogngider. Bukan bermaksud mengkhianati dunia antah berantah bernama blogsphere, tapi lagi seneng Tempongider aja. Sekali sekali ganti tempat jogging nggak apa apa kan? Blogsphere jangan ngambek yaa? Kan aku masing sering main juga. .

Sejauh in dosen dosen saya M.E.N.Y.E.N.A.N.G.K.A.N. dan itu bikin saya semangat kuliah. Yak, saya memang semangat kuliah tapi bukan semangat berangkat kuliah. Kalo mau berangkat itu rasanya maleeesss banget, tapi giliran udah di ruang kuliah, saya jadi semangat. Nggak tau kenapa. Mungkinkah dosen dosen saya punya sifat opposite dengan dementor? Atau kah dosen dosen saya napasnya mengandung ramuan Amortentia jadi bisa bikin orang di sekitarnya cinta kuliah?
Tapi (selalu ada tapi. Negatif tetap harus ada untuk menyeimbangkan positif kan?), ada satu dosen saya yang diganti, Pak A**ng diganti entah bapak/ibu siapa. Entah kenapa, apa alasannya nggak jelas. Padahal beliau dosen favorit saya. Cara ngajarnya asik tanpa membuat kami para siswa merasa digurui, kami bebas mengmukakan pendapat kami akan suatu kasus yang dibahas. Tapi yah, kantor jurusan menetapkan beliau tidak mengajar kelas saya lagi ya sudahlah, nggak perlu kecewa, toh masih ada penggantinya walaupun belum ketahuan bagaimana the wings lecturer ini.
Dosen favorit saya yang lain adalah Bu Nu**k. Kenapa favorit? Karena cara beliau ngomong itu pas banget di dengernya. Beliau mirip Deborah Carroll Nanny 911. Cara ngomongnya, suaranya, pola pikirnya yang selalu mengobservasi dulu. Beliau dosen yang paling mendorong kami para anak didiknya untuk banyak banyak nonton film berbahasa Inggris. Yang ini adalah main reason kenapa saya letakkan beliau di list of favorit lecturer saya.

Oke, that's all (so far) about my college madness happiness. Lain kali saya sambung lagi. Sekarang main ular tangga dulu...

Oiya, saya tadi dapat kejutan. Saya dapat paket tanpa nama pengirim. Dan ternyata itu adalah sebuah buku yang setelah saya ingat ingat, itu adalah buku dari Kick Andy. Saya ikut kuisnya bulan Agustus kemarin.

Ini kejutan bangun dari tidur siang saya....