Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2011

Hujan di Bulan November

Bulan ini punya beberapa tanggal cantik, ada tanggal 11-11-11 dan 20-11-2011. Saya menyebutnya tanggal cantik, bukan tanggal baik. Karena semua tanggal itu baik, kalo nggak baik, nggak mungkin diakui dan diterima keberadaannya kan? Dan selamat ya buat para pasangan yang berhasil memanfaatkan tanggal-tanggal cantik itu untuk menyibukkan petugas KUA. Semoga pernikahannya secantik tanggalnya... Selamat juga untuk mereka yang menjadi orang tua di tanggal-tanggal cantik tersebut. Semoga anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan cantik...

****

Sekarang sudah musim hujan dan saya senang karenanya. Banyak cerita di musim hujan.
Hujan di pagi hari selalu bikin saya semangat. Hujan yang saya maksud bukan hujan dengan pasukan titik-titik air yang membabi buta, tapi hujan yang sedang-sedang saja, nggak deras tapi nggak rintik-rintik juga. Intinya hujan yang bikin basah tapi nggak bikin bencana.

Daaaaaaaaaaaaaaaaaan hujan di pagi hari yang paling berkesan buat saya adalah hujan di hari Senin.

I wake up at dawn, opened my window, and catch the smelt of wet ground in sudden. It was “sesuatu banget”.

Sholat jadi khusyu, berangkat kuliah jadi semangat, apalagi kuliah di jam pertama dengan dosen yang mirip mbah kakung saya. bener-bener 100% deh. What a Monday!

Hujan di siang hari selalu bikin adem. Siang hari, setelah beraktivitas dari pagi sampai Dzuhur, terus tiba-tiba hujan memberikan sebuah surprise kelegaan buat saya. Berasa kaya lari maraton di padang pasir lalu tiba-tiba ketemu tenda dengan AC dan dipersilakan minum jus strawberry. Bikin adem banget!

Hujan di sore hari pun berkhasiat bikin kembali 100%. Survey membuktikan, menurut kebanyakan mahasiswa, kuliah setelah Ashar adalah percuma, pemborosan waktu. Kenapa? Karena, menurut mereka, waktu antara Ashar dan Maghrib adalah jam-jam bodoh, jam-jam di mana otak jadi soak. Hasilnya bukannya nambah ilmu, tapi nambah dosa karena ngomongin dosen dan maki-maki ini itu. Tapi, buat saya, hujan di sore hari kasih kekuatan super buat meluncur ke sarang burung elang di ujung pohon redwood. Bikin kuliah di jam-jam bodoh jadi kaya les privat dengan dosen setampan Rizky Hanggono dan kemampuan menjelaskan detail-detail seperti oma Victoria Fromkin. Rasanya kaya seorang pemain basket di tengah pertandingan basket dengan lawan yang super jagoan yang bikin lari ke sana-sini ngejar bola tanpa henti yang sukses bikin capek lahir batin, lalu tiba-tiba dikasih time-out, dan di time-out itu si pemain basket bisa ngelap keringat, minum, atur napas, atur strategi, singkatnya recharge energi. Super sekali!

Hujan di malam hari sukses bikin saya tidur nyenyak. Suara titik-titik air yang ketemu genting kedengeran kaya lullaby termerdu di telinga saya. Bikin nggak tahan dengan rayuan trio kwek-kwek dunia mimpi (kasur-bantal-guling).

Intinya, saya suka hujan!

Hujan bikin hawa jadi adem. Jadinya pilih-pilih baju gampang. Pilih baju ini, masih kedinginana, tumpuk pake baju itu. Bikin gampang mix n match baju. Beda kalo sama musim kemarau, pake baju gimana aja berasa gerah, kecuali kalo di ruangan ber-AC. Dan terlalu sering berada di ruang ber-AC itu berarti kita nggak saya Bumi dong ya?

***

And, the dish of the month is “bubur telur naga”....

Namanya aja gahar, sangar, bikin keder gimana gitu, tapi above all, rasanya lembuuuutt!

Jadi, bubur telur naga itu isinya bubur sum-sum, syrup gula jawa, sama tiga bulet-bulet warna merah. Bubur sum-sumnya lembuuuuutttt, lumer banget di lidah. Syrup gula jawanya bagus, nggak kental-kental banget, tapi nggak encer kaya air juga, pas. Tiga bulet-bulet warna merah itu yang diasosikan sebagai telur naga. Rasanya perpaduan antara bulet-bulet yang biasa ada di wedang ronde dan mochi kacang. Kulitnya dari tepung ketan yang ada isinya parutan kelapa yang dicampur gula jawa sama kacang tumbuk. Harganya Rp 5.000. Nggak berat di kantong kan, ya?


Sabtu, 04 Juni 2011

Sebuah Pantai di Pekalongan

Sekitar awal Mei 2011 saya ikut bapak-ibu saya ke Pekalongan untuk suatu acara yang saya kurang ngerti juga acara apa. Tapi apapun acaranya, nggak ngaruh juga buat saya, yang penting saya bisa ikut jalan-jalan, itu aja.

Apa yang saya peroleh dari kunjungan ke Pekalongan sebagai sebagai Miss Yangpentingasakngikutaja? Gerah. Yak, selama 2 hari 1 malam di Pekalongan, saya keringetan terus.

Pekalongan hawanya panaaaas, men!

Pasti grafik penjualan deodoran di Pekalongan tinggi deh. Lha kota kok tiada menit tanpa hawa panas. Bahkan subuh pun udah panas, bikin gerah.

Tentang kuliner, di Pekalongan saya sarapan nasi Megono.

Apa itu nasi Megono?

Ada dua jenis nasi Megono yang saya sempat icipi. Yang pertama, nasi Megono adalah nasi putih dengan urap nangka muda. Yang bikin beda dari urap nangka muda yang biasa saya temui di Solo-Jogja adalah di nasi Megono ini sambel kelapanya pake aneka rupa rempah macem kencur, daun sama kulit jeruk purut sama sereh. Dan menurut saya rasanya rada aneh. Berasa makan urap pake Sunlight. Rasanya wangi-wangi pedes bikin mabok gimana gitu. Yang kedua, nasi Megono berupa nasi putih dengan urap ikan tongkol. Jadi ikannya dikukus dulu, trus disuwir-suwir, trus dicampur sama sambel kelapa yang rasanya kaya Sunlight.

Trus gimana wujud nasi Megono?
Maaf, saya lupa foto nasi rasa Sunlight Megono.

Satu hal yang sedikit mengecewakan saya, saya nggak sempet ngicip seafood khas Pantura. Kenapa? Karena selama di Pekalongan, nggak tau kenapa rasa-rasanya pengen makan masakan Padang mulu. Alhasil kita makannya masakan Padang tanpa sedikitpun hasrat mampir ke tempat makan yang nyediain ikan bakar atau apalah yang khas daerah pesisir gitu. Sampai di rumah baru inget kalo kita pas berangkat pengen makan ikan bakar atau apalah yang ada hawa-hawa seafoodnya gitu.

Nggak afdol kalo ke daerah Pantura tapi nggak mampir ke pantai. Jadilah mampir ke salah satu pantai yang maaf saya lupa namanya. Pantainya bagus. Meskipun bukan jenis pantai dengan pasir putih, tapi pantainya cukup bersih. Ombaknya nggak gede, khas Pantura, jadi aman kalo anak-anak kecil mau main-main rada deket ke air. Selanjutnya, let the pictures do the talk...




P.S : wanita berkerudung di foto ini bukan saya.

(1)

(2)
(1) dan (2) adalah foto rawa di tepi pantai. Rawanya kaya sawah gitu, kotak-kotak ada semacam pematang di sekelilingnya. Dan di pematang-pematang itu ditanami pohon bakau.
Sebenernya di antara rawa-rawa dan di sepanjang tepian jalan masuk ke pantai, ada kebun melati. Tapi sama seperti nasi Megono, saya lupa buat jepret-jepret.





Garis di langit itu jejak pesawat/ roket/ entah apa namanya pokonya yang mesin yang bisa terbang gitu. Keliatannya cantik ditengah-tengah awan gitu. Jadi keliatan kaya bulu burung, Tapi sebenarnya rada ngilu juga ngeliatnya. Langit yang cantik apa adanya jadi ternoda, itu polusi. Kaya kulit muka mulus bintang iklan kosmetik, tiba-tiba ada jerawatnya. Tetep cantik, tapi rada ngganjel aja kalo diliat.


Sebenernya pantai ini sepi, nggak terlalu ramai. Kalo di foto ini keliatan ramai, banyak mobil parkir, itu karena saya ke sananya rame-rame, sekitar 20an mobil. Jadi yang bikin keliatan ramai ya rombongan di mana saya ikut sebagai Miss Yangpentingasalngikutaja.


Di tepi pantai banyak pohon cemara. Kalo diliat pohon-pohon cemaranya berderet rapi, sepertinya memang sengaja ditanam, nggak tumbuh dengan sendirinya.



Foto duo bocah nan unyu dan kyut ini adalah bukti kalo ombak di pantai ini nggak ganas. Nggak mungkin dong orang tua bocah-bocah ini biarin anaknya main sedeket itu sama air kalo ombaknya kejam mengancam? Malah menurut saya pantai ini airnya kaya danau, tenang.

Selasa, 15 Maret 2011

Bakwan Kawi

Jam makan siang, perut keroncongan, ya ke kantin aja...

Di kantin rame, mau pesen antri, nunggu lama, ya sabar aja. Namanya juga idup...

Di tas ada laptop, di kantin ada WiFi, ya online aja...

Online, liat tukang Bakwan Kawi, ya tulis di blog aja...

Banyak penjual Bakwan Kawi di sekitar kampus saya, di sekitar Jogja. Sebenarnya apa Bakwan Kawi itu? Entahlah. Meskipun sudah beberapa kali makan, saya tetap have no idea what Bakwan Kawi is actually.

Setiap dengar kata “bakwan”, pasti yang terbayang adalah bakwan jagung, bakwan udang, dan bakwan-bakwan lain yang bentuknya seperti layak dan normalnya gorengan. Tapi Bakwan Kawi ini nggak ada mirip-miripnya dengan bakwan jagung maupun bakwan udang. Bahkan saya yakin adonannya pun berbeda, tanpa sayur seperti layaknya bakwan.

Menurut saya, Bakwan Kawi adalah makanan dengan status labil akut. Namanya bakwan, tapi penyajiannya mirip Bakso Malang. Dimakan dengan kuah kaldu yang nggak berasa kaldunya, cuma sekedar asin dan bening, isinya mirip pangsit basah di Bakso Malang dengan dua macam, sekedar dikukus atau digoreng, tapi dengan adonan yang nggak ada mirip-miripnya dengan pangsit, bakwan, maupun bakso. Lha trus kaya apa dong? Kalo saya bilang, lebih mirip somay jadi-jadian karena terbuat dari kulit pangsit yang diisi adonan tepung kanji (?).

Bakwan Kawi juga, menurut saya, makanan dengan zero nutrition, kecuali karbohidrat. Tapi saya juga kurang yakin apakah karbohidrat yang terkandung dalam kulit pangsit dan tepung kanji itu mencukupi standar gizi dan memenuhi syarat sebagai karbohidrat sehat. Kenapa? Karena Bakwan Kawi nggak mengandung sayur sama sekali. Nggak mengandung serat sama sekali. Cuma kuah, potongan entah-somay-pangsit-jadijadian-atau-apapun-itu, bawang goreng, bahkan potongan seledri pun hanya disajikan oleh segelintir penjual Bakwan Kawi. Cuma satu hal yang dapat dipastikan dari Bakwan Kawi, bikin kenyang. Cuma kenyang aja.

Saya nggak pernah bisa menikmati makan Bakwan Kawi. Bakwan Kawi adalah makanan darurat saya ditengah jadwal kuliah yang membabi buta dan tidak ada waktu jeda yang memadai untuk ngesot ke warung makan. Saya memang harus berterima kasih pada Bakwan Kawi kaarena begitu mudah ditemui di sekitar kampus, tapi saya tetap merasa sulit menelannya. Rasanya kacau tiap makan Bakwan Kawi. Tiap sendok selalu memunculkan pertanyaan, “makanan apa ini sebenarnya?”. Tapi apa mau dikata, cacing di perut sudah riuh ngamen, jadwal kuliah memburu, jadilah Bakwan Kawi pahlawan saya.

Jujur, saya makan Bakwan Kawi di tengah himpitan jadwal kuliah hanya sebagai tindakan pencegahan agar sistem pencernaan saya punya sesuatu untuk dicerna, alih-alih mencerna dinding lambung saya yang memang sudah mengucap ikrar setia dengan maagh.

Tapi lepas dari segala keheranan saya tentang Bakwan kawi, ada juga teman saya yang hobi makan Bakwan Kawi. Tiap waktu makan di kampus, dia lebih sering pilih makan Bakwan Kawi dari pada aneka rupa makanan lain. Entah kenapa dia bisa suka. Saya sendiri selalu bertanya-tanya, “apa sih enaknya?”.

Selasa, 17 Agustus 2010

Jalan Ta'jil

Ini Ramadhan pertama saya dengan status mahasiswa.
Kali ini saya menjalankan puasa secara nomaden. Beberapa hari di kampung halaman, Karanganyar, beberapa hari di ladang ilmu, Yogyakarta. Pengalaman baru buat saya. Kalo biasanya saya sahur sampai buka cuma di satu kota, kali ini bisa di beda kota. Sahur di Jogja, buka di Karanganyar, atau sebaliknya.

Sebenarnya sama aja, tapi mungkin karena pengaruh suasana rasanya jadi gimana gitu. Excited tapi ada rasa kehilangan juga. Senang tapi sedih juga. Entah apa namanya tapi saya tetap bisa menikmati. Insyaallah.

Kesimpulan saya dari Ramadhan adalah di mana pun itu pasti ada yang namanya Jalan Ta’jil. Jalan Ta’jil adalah sebutan saya buat suatu ruas jalan yang jadi pasar dadakan menjelang buka puasa. Macam macam ta’jil buat buka puasa dijual di sana. Kalo di Karanganyar Jalan Ta’jil ada di jalan selatan Taman Pancasila ke barat arah Gedung Wanita sama di sekitar alun alun, mungkin ada di tempat lain juga, tapi yang saya tahu sementara baru itu. Kalo di Solo jalan Ta’jil ada di Manahan, di Jalan Selamet Riyadi, dan banyak yang lain. Kalo di Jogja Jalan Ta’jil ada di daerah Lembah UGM, mulai dari Jalan Olahraga sampai perempatan dekat wisma MM UGM. Sementara baru Jalan Ta'jil di tiga kota ini yang pernah saya datangi.

Yang dijual di Jalan Ta’jil itu macam macam. Ambil contoh kolak. Kolak aja bisa ada 5 macam, ada kolak pisang, ada kolak biji salak, ada kolak tape, ada kolak ubi, ada kolak singkong. Contoh lain es dawet. Es yang sebenarnya isinya sama itu bisa ada beermacam macam juga, ada es dawet Bandung, es dawet Kalasan, es dawet Solo, es dawet Banjarnegara , dan masih banyak lagi. Selain es es situ ada juga sate. Sate itu pun bermacam macam, ada sate ayam Madura, sate ayam Ponorogo, sate kambing, sate kelinci, sate sapi, sate Padang, sate Kere, dan sate sate yang lain. Khusus di Jalan Ta’jil 2010 Lembah UGM yang mendominasi adalah es pisang ijo dan yang nggak pernah absen di Jalan Ta'jil mana pun adalah kolak, es buah, dan klamud.

Bisa dibilang Jalan Ta’jil itu miniatur kuliner Indonesia. Berbagai macam kuliner dari berbagai sudut daerah di Indonesia ada di sana. Dari Pulau Sumatra biasanya diwakili sate Padang, pempek Palembang. Dari Pulau Jawa jangan ditanya, bejibun banyaknya. Ada somay dan batagor dari Bandung, rujak cingur dari Jawa Timur, manisan carica Wonosobo, dan lain sebagainya. Dari Bali biasanya diwakili sate lilit. Dari Sulawesi ada es pisang ijo. Dan dari daerah daerah lain.

Saking komplitnya jajanan di Jalan Ta’jil, misalnya ada orang yang pengen menu makanannya dalam sebulan Ramadhan itu nggak ada yang sama alias beda beda tiap hari, cukup tiap mau buka puasa ke Jalan Ta’jil, tiap sore beli di pedagang yang beda beda dengan jenis makanan yang bejibun itu.

Tapi meski pun ini bulan Ramadhan, bulan di mana tiba tiba banyak orang jadi Islam dan syetan syetan katanya dibelenggu, kita tetap mesti waspada tiap waktu, tak terkecuali pas ngabuburit di Jalan Ta’jil. Tiap mendekati waktu buka puasa, Jalan Ta’jil pasti rame, banyak orang, sampe macet gara gara si Komo lewat mau beli es pisang ijo. Nggak ada yang bisa jamin si pemilik tangan tangan jahil absen dari crowdednya Jalan Ta’jil. Jadi jangan karena keasyikan pilih pilih jajanan sampai lalai sama dompet. Kalo kata Bang Napi "Kejahatan tidak selalu terjadi hanya karena niat pelakunya, tapi juga kesempatan. Waspadalah, waspadalah!"

Senin, 05 Juli 2010

Omah Selat

Kalo sekolah pengen libur, tapi kalo libur bingung mau ngapain. Itulah saya.

Setelah saya hitung hitung, ternyata libur saya kali ini kira kira 5 bulan. Lamanyaaaaaa…. Ternyata jadi pengangguran itu nggak enak. Sering mati gaya nggak tau mau ngapain.

Dan karena siang siang nggak ada kerjaan, perut lapar, ibu saya juga nggak masak, akhirnya saya sama ibu saya ke Omah Selat. Dari namanya aja udah ketahuan kalo tempat itu jualannya rawon. . Nggak ding. Becanda, improvisasi *halah.

Namanya aja Omah Selat, jadi menunya macam macam selat. Ada selat segar, selat iga, selat galantin, selat Sunda, selat, Bali, selat Madura . Saya udah beberapa kali ( kalo nggak bisa dibilang sering ) makan di sana, dan semua selatnya enak. Ada juga sop, tapi saya belum pernah nyoba satu porsi utuh. Tapi rasanya juga yahud kok. .











tahu baso @Rp 1.500

selat segar Rp 9.000

selat iga bakar Rp 15.000

selat iga bakar