Rabu, 27 April 2011

Buku di Kereta Commuter

Hal yang perlu dicatat tiap mau naik kereta commuter macam Pramex (Prambanan Express) adalah bawa buku bagus.

Kenapa?

Pertama, dibaca biar nggak ngelamun atau bengong aja. 1 jam di kereta bisa bikin mati gaya. Yang ada pikiran nglantur ke mana-mana. In case, naik keretanya sendirian lho ya... kalo bawa buku kan asik. Jadi ada kegiatan, bikin pinter pula.

Kedua, buat kipas-kipas. Untuk yang satu ini, bukunya nggak bisa sembarangan. Nggak mungkin dong bawa buku macam novelnya Harry Potter yang setebel bantalan rel kereta itu trus buat kipas-kipas? Yang ada gempor tuh tangan. Kadang (dan sering) jendela kereta nggak bisa diajak kerja sama, sering macet atau bahkan nggak ada grendelnya, jadi nggak bisa dibuka deh. Kalo udah kaya gitu, yang ada hawa panas macam sauna di gerbong kreta. Buku yang tepat bisa jadi unsung hero di saat seperti itu. Selain bikin pinter, buku bisa jadi penyejuk, jadi kipas gitu maksudnye.

Ketiga, bisa jadi awal topik pembicaraan sama yang duduk disebelah. Beberapa kali saya jadi ngobrol sama ibu-ibu (saya selalu duduk deket ibu-ibu) di sebelah saya karena buku yang saya baca. Kadang si ibu sekedar tanya bukunya tentang apa, ceritanya gimana, pengarangnya siapa, kenapa suka. Tapi pernah juga si ibu malah komentar panjang tentang ketidakmengertiannya kenapa buku yang saya baca dianggap bagus dan menarik oleh banyak orang. Si ibu juga cerita kalo dia jadi sebel karena anaknya juga suka baca buku tersebut. Pokoknya buku bisa jadi ajang silaturahmi.

Keempat, buku bisa jadi tempat nyimpen karcis. Daripada bingung mau taruh di mana si kertas mungil karcis kereta, buku bisa jadi alternatif tempat penyimpanan. Sisipin aja di antara lembaran halaman buku. Jadi kalo pas pemeriksaan karcis, tinggal buka buku. Nggak perlu bingung nyari-nyari dulu. Dan hasilnya, hampir di setiap buku saya selalu ada karcis kreta. Dan lagi, karcis-karcis itu bisa dijadikan pembatas buku lho...

Kelima, bisa dijadiin tutup muka. Kadang, rasa kantuk datang menyergap tanpa permisi dan tak bisa dicegah. Disinilah buku memainkan perannya. Buku bisa dijadikan tutuup muka. Orang tidur nggak sadar penampilan. Bisa jadi pas tidur mulut kita terbuka, jadi mangap gitu. kan nggak enak banget ya ngeliat orang tidur yang mangap gitu. Untuk menghindari menjadi sumber pemandangan tidak sedap sekaligus antisipasi kalo-kalo pas tidur kita mangap, bisa kita tutup deh muka kita pake buku.

Senin, 28 Maret 2011

Earth Hour 2011

Saya ikut berpartisipasi dalam Earth Hour 2011 ini. No lamps at all! Yeah!

Meskipun kalo diitung, partisipasi saya cuma seucrit, tapi rasanya senang, bangga, haru gimana gitu. Pokoknya mejikuhibiniu deh udah ikut memperpanjang umur bumi (walau cuma beberapa detik). Tapi sayang, rasa nan unyu itu harus sedikit ternoda ketika saya tau keadaan rumah tetangga saya. Dari sekian tetangga saya, cuma satu tetangga saya yang kooperatif, bahkan salah satu tetangga sebelah rumah saya pas sangat menjengkelkan. When people around the world try to lengthen the earth’s life expectancy, he turn on his air conditioner and lamps. Kok saya tau dia nyalain AC? Jelas saya tau, kipas AC-nya deket kamar saya dan suaranya kedengaran. Bikin gregetan pengen teriak, “Woy! Matiin noh lampu-lampu sama AC. Earth Hour nih! Earth Hour! Jangan masa bodoh gitu, partisipasi panjangin umur bumi dong. Kalo bumi come to the end, ente mau tinggal di mane coba?!”. Tapi yah, apa mau dikata? Beda kepala beda otak. Anak sama bapak yang satu rumah aja bisa beda pikiran, apalagi yang satu RT.

Oke, abaikan noda pada euforia Earth Hour. Terserah apa yang terjadi di bawah atap tetangga, nggak perlu dipikirkan. Alhamdulillah di rumah saya Earth Hour tidak ternoda. Bapak saya bahkan sampai menunda nge-charge hp sampai lewat jam 10 malam. Ibu saya pun nunda masak nasi demi Earth Hour, meskipun percakapan ini harus terjadi.

Bapak : semua lampu dimatikan kan? Tapi nge-charge hp gpp kan?
Kepompong : hmmm...
Bapak : yayaya. Harus nunggu. Yayaya *ngalungin charger hp, matiin hp*
Ibu : lha masak nasi?
Kepompong : he?
Ibu : harus nunggu kan? Yayayaya

Berasa jadi bos satu jam deh.

Dan alhamdulillah juga saya nggak piara ikan maupun sedang dalam usaha menetaskan telur ayam, penyu, maupun T-Rex, jadi lampu-lampu di rumah saya bener-bener mati total. Untuk ini, saya berterima kasih pada NGC karena selama 30 menit (jam 19.30-20.00) sebelumnya bikin serangan fajar berupa sosialisasi Earth Hour 2011. Bapak sama ibu saya jadi bener-bener yakin, no doubt, kalo meskipun cuma satu rumah yang matiin lampu, itu juga udah nyumbang beberapa detik buat memperpanjang umur bumi nan baik dan nggak sombong ini.
Berbagai hitung-hitungan tentang berapa banyak penghematan energi selama Earth Hour kasih liat jumlah yang fantastis. Saya jadi mikir, kenapa pemerintah seluruh dunia nggak kompakan bikin Earth Hour jadi “it’s a must thing” aja? Caranya dengan kompakan matiin power supply selama Earth Hour, kecuali buat penerangan jalan, sistem komputerisasi, dan hal-hal krusial lain. Yang di stop supply listriknya yang ke arah permukiman penduduk aja. Kan kalo kaya gitu Earth Hour yang cuma satu jam setahun itu jadi efektif banget dan angka-angka hasil berbagai penghitungan penghematan energi jadi semakin fantastis dan wow. Hasilnya Bumi jadi lebih lama masa eksistensinya...

Temuan selama satu jam dalam kegelapan :

1. Kompor gas bisa dijadikan lampu di dapur.
2. Buat yang rumahnya ngadep ke gunung, ketika rumah dalam kondisi gelap gulita, keluar rumah dan liat ke arah gunung deh. Pasti jadi bersyukur banget punya mata, jadi bisa liat pemandangan nan mempesona, titik-titik cahaya warna-warni lampu di gunung. Kelap-kelip gitu. Duit satu karung, berlian satu keranjang, mutiara segede batu kali pasti kalah mempesona dah!
3. Yang ini dari bapak saya, no lamps at all bikin meditasi tambah khusyuk. Katanya berasa lebih adem, tenang gitu.
4. Tidur jadi lebih nyenyak (kata sepupu saya).
5. Jadi bisa lebih menghayati pas denger themesong Tropicana Slim yang judulnya Remember, apalagi kalo sambil minum susu cokelat anget.

Rabu, 23 Maret 2011

Word Travels, I'm in Love

When we were ten, they asked again and we answered - rock star, cowboy, or in my case, gold medalist. But now that we've grown up, they want a serious answer. Well, how 'bout this: who the hell knows?!

-Jessica Stanley, Eclipse movie
Well, I think hell did a whisper to me. I know what I wanna do later on. I wanna do something like what Robin Esrock and Julia Dimon do on World Travels, being travel writers. Although the salary is not that great, but isn’t it great being able to do what you like? Go around the world, breath different air, see different sceneries, and the greatest thing is write down everything you fell and change other’s perception based on yours! Great, isn’t it?

Everybody want to change the world into better living place, right? Even Obama do.

Change the world! Change the world! Change the world!

And being a travel writer is one of the way to change the world into better living place. How come? Okay, let’s think it over. By traveling around the world, we can explore every single puzzle around. We can go to the isolated places, places which never come to one’s mind as tourist destination, then find out what are interesting about the places, then write them down. People who read our writing will think over about the places and soon, they will be courious and find out the places by themselves. An isolated place suddenly become a well-known place. The other thing is we can go to a controversial place, a place which is famous because of its negative side or its exclusiveness. Jordan for example. Jordan is well-known as Moslem country. People’s perception about Jordan is about a country where everybody, includeed its teenagers, lives based on Moslem regulation, the women wear their veils everywhere, no entertainment, and so on. We can go there, then try to blend with its people to find out how they live actually. After that, we write down what we found. It will give new information to the world. That Jordan isn’t only about Moslem. It’s people has varieties of entertainment as well, but a bit different from what Western has. There are unveiled women as well. It simply gives someone else a new information.

Okay, I think it’s enough for the English part.

Jadi, intinya, saya pengen nglakuin apa yang Esrock dan Dimon lakukan di Word Travels. Jalan-jalan ngider ke mana-mana, nyobain ini itu, belajar ini itu, trus bikin catatan-catatan kecil di note, trus lanjut bikin laporan perjalanan on the fly home. Lalu e-mail tulisan itu ke majalah/koran/media cetak lain. Tulisan dicetak. Dibaca orang. Kita jadi ikut mempromosikan suatu tempat ke mata dunia. Asik banget kan?

Akan lebih asik lagi kalo selain menjadi travel writer, juga menjadi seorang “jumper”. Pernah liat film judulnya Jumper? Nha “jumper” yang saya maksud sama seperti jumper judul film itu. Jadi, bisa lakukan apa yang disukai sekaligus kerja, tapi dengan cara yang hemat. Nggak perlu bayar biaya perjalanan, kan bisa langsung “loncat” ke tempat yang dituju. Nggak perlu bayar sewa penginapan juga, kan bisa “loncat” PP. Hemat kan?

Okay, back to reality. Skip bagian “loncat-loncat”.

Karena Word Travels juga saya jadi pengen ber-VAIO ria. Bukannya saya nggak bersyukur atas leppy saya nan unyu ini, tapi karena liat Esrock sama Dimone bertempur bersama VAIO merahnya saya jadi jatuh cinta sama VAIO. Kesannya bandel, tahan gempa dan tsunami gitu. Sebenernya nggak cuma jatuh cinta sama VAIO sih, tapi sama kameranya juga. Tapi untuk satu ini, alhamdulillah saya udah punya, jadi saya nggak sejatuh bangun seperti ke si VAIO.

Kesimpulannya, demi satu kontainer Beng-Beng, saya pengen jadi travel writer. Akhirnya saya punya cita-cita yang logis di masa-masa persiapan masa depan nan krusial ini.