Tampilkan postingan dengan label dari pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dari pengalaman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2011

Suatu Siang di Warnet Itu

Di suatu hari Kamis minggu kemarin, saya di warnet depan kost, download tugas karena modem saya belum punya nyawa (baca : belum diisi pulsa).Tapi rupanya sistem di warnet itu tidak kooperatif dengan saya. Dua kali saya harus pindah komputer dan tugas pun tidak terdownload.

Saya : mbak, kok ini status network-nya nggak aktif, problem loading page terus?

Si mbak operator : oh, gitu ya, mbak? Pindah aja ya, mbak? Ke komputer 5. Tadi yang sebelumnya juga kaya gitu, terus pindah ke komputer lain.

Saya : *dalam hati* lha situ tau komputer itu lagi trouble kenapa saya tadi disuruh ke sana?!

Saya : berati saya ulang semua lagi?

Si mbak operator : iya, mbak.

Saya : ya udah, mbak. Saya ke komputer nomer 5.

Lalu saya pindah ke komputer nomer 5. Belum lagi 5 menit, udah trouble lagi. Komputer tiba-tiba mati. Saya tanya lagi ke mbak operator.

Saya : mbak, kok ini tiba-tiba mati?

Si mbak operator : oh, mati ya, mbak? Mungkin emang lagi trouble.

Saya : hmmm.... terus gimana, mbak? Pindah lagi?

Si mbak operator : mungkin koneksi lagi jelek, mbak. Mbak download ya?

Saya : iya.

Si mbak operator : lha, si mbak download sih.

Saya :*diem*.

Dalam hati saya ngomel-ngomel. Lha ke warnet ngapai kalo nggak bisa download? Fesbukan doang? Twitteran doang? Kalo cuma fesbukan sama twitteran, saya pake hp juga bisa, mbak. Lebih cepet malah. Nggak perlu saya bela-belain ke warnet cuma buat fesbukan sama twitteran.
Harusnya si mbak itu tempel pemberitahuan : “Facebooking and Tweeting only. No downloading.”
Dan lagi si mbak ini kok jawabannya pake ‘mungkin’ semua. Lha kan bisa dilihat di komputer operator bermasalah nggak komputer-komputernya, gimana traffic-nya, lancar nggak, trouble nggak.

Tapi ya tapi, nggak seharusnya saya marah-marah. Useless, wasting energy. Percumi juga mau marah, nggak bikin masalah selesai, malah tambah dosa, dongkol, energi negatif. Dan saya nulis ini pun nggak bermaksud buat marah-marah, cuma sekedar sharing aja. Sodara saya ada yang punya bisnis warnet juga, saya juga nggak mau kalo tiba-tiba ada kesalahan yang tidak disengaja lalu sodara saya atau karyawannya disalahkan sama konsumen, tapi saya cuma mau bilang, apapun profesi yang dijalani, be professional. Give the best.

Rabu, 27 April 2011

Buku di Kereta Commuter

Hal yang perlu dicatat tiap mau naik kereta commuter macam Pramex (Prambanan Express) adalah bawa buku bagus.

Kenapa?

Pertama, dibaca biar nggak ngelamun atau bengong aja. 1 jam di kereta bisa bikin mati gaya. Yang ada pikiran nglantur ke mana-mana. In case, naik keretanya sendirian lho ya... kalo bawa buku kan asik. Jadi ada kegiatan, bikin pinter pula.

Kedua, buat kipas-kipas. Untuk yang satu ini, bukunya nggak bisa sembarangan. Nggak mungkin dong bawa buku macam novelnya Harry Potter yang setebel bantalan rel kereta itu trus buat kipas-kipas? Yang ada gempor tuh tangan. Kadang (dan sering) jendela kereta nggak bisa diajak kerja sama, sering macet atau bahkan nggak ada grendelnya, jadi nggak bisa dibuka deh. Kalo udah kaya gitu, yang ada hawa panas macam sauna di gerbong kreta. Buku yang tepat bisa jadi unsung hero di saat seperti itu. Selain bikin pinter, buku bisa jadi penyejuk, jadi kipas gitu maksudnye.

Ketiga, bisa jadi awal topik pembicaraan sama yang duduk disebelah. Beberapa kali saya jadi ngobrol sama ibu-ibu (saya selalu duduk deket ibu-ibu) di sebelah saya karena buku yang saya baca. Kadang si ibu sekedar tanya bukunya tentang apa, ceritanya gimana, pengarangnya siapa, kenapa suka. Tapi pernah juga si ibu malah komentar panjang tentang ketidakmengertiannya kenapa buku yang saya baca dianggap bagus dan menarik oleh banyak orang. Si ibu juga cerita kalo dia jadi sebel karena anaknya juga suka baca buku tersebut. Pokoknya buku bisa jadi ajang silaturahmi.

Keempat, buku bisa jadi tempat nyimpen karcis. Daripada bingung mau taruh di mana si kertas mungil karcis kereta, buku bisa jadi alternatif tempat penyimpanan. Sisipin aja di antara lembaran halaman buku. Jadi kalo pas pemeriksaan karcis, tinggal buka buku. Nggak perlu bingung nyari-nyari dulu. Dan hasilnya, hampir di setiap buku saya selalu ada karcis kreta. Dan lagi, karcis-karcis itu bisa dijadikan pembatas buku lho...

Kelima, bisa dijadiin tutup muka. Kadang, rasa kantuk datang menyergap tanpa permisi dan tak bisa dicegah. Disinilah buku memainkan perannya. Buku bisa dijadikan tutuup muka. Orang tidur nggak sadar penampilan. Bisa jadi pas tidur mulut kita terbuka, jadi mangap gitu. kan nggak enak banget ya ngeliat orang tidur yang mangap gitu. Untuk menghindari menjadi sumber pemandangan tidak sedap sekaligus antisipasi kalo-kalo pas tidur kita mangap, bisa kita tutup deh muka kita pake buku.

Selasa, 09 November 2010

Curhat Merapi

Semesta raya selalu misterius. Ibarat cewek, dia selalu membuat cowok cowok penasaran. Setiap hari para ilmuwan bekerja, meneliti, menghabiskan waktu mereka di depan simulator, mikroskop, teropong, monitor pengendali satelit, dan aneka rupa peralatan lainnya demi menguak satu per satu misteri yang disimpan semesta. Tapi ribuan hari yang mereka habiskan belum mampu menyingkap tabir semesta. Keterbatasan manusiakah? Atau Tuhan terlalu kaya akan ilmu pengetahuan? Entahlah.

Makin hari cuaca juga makin nggak bersahabat. Ibarat cewek yang lagi didekati cowok, dia tarik ulur terus, sok misterius. Cuaca pun demikian, tiap hari selau bikin geregetan sampai sampai Sherina nyanyi
geregetan, oh aku geregetan. Apa yang harus kulakukan...


Hawa panas ditengah guyuran hujan yang membabi buta dan terkadang hawa dingin misterius di pagi hari meskipun matahari bersinar cerah ceria. Mungkinkah Kementrian Sihir telah kehilangan kendali atas dementor dan dementor pun berkeliaran? Entahlah.

Indonesia negara tropis yang memiliki 2 musim pun seperti tidak bermusim lagi. Tidak jelas kapan musim hujan, kapan musim kemarau, sepanjang tahun adalah musim hujan-kemarau. Seolah olah kedua musim itu telah berikrar akan berduet bersama macam Anang-Syahrini. Kalau kata lagu ada Desember Kelabu, sekarang setiap bulan adalah kelabu. Bulan Juni yang seharusnya kita mandi matahari, ternyata diguyur hujan juga. Dan itu berefek pada banyak hal. Dunia fashion misalnya. Pagi yang dingin membuat orang memilih memakai baju tebal, tapi siangnya ternyata panas terik. Bikin banyak orang jadi saltum, salah kostum. Atau bahkan sebaliknya. Pagi hari ternyata udah panas, orang orang jadi memilih memakai baju yang bahannya adem, tapi ternyata siang hari entah darimana ada hawa dingin yang bikin merinding (saya masih berkeyakinan ini efek dementor). Kalo udah kaya gini, AC, kipas angin, kipas sate, heater dan lain sebagainya tidak terlalu membantu manusia untuk survive. Dan yang lebih menyesakkan dada adalah hujan belang. Disini hujan, tapi 500 m kemudian panas terik, lalu 1 km kemudian gerimis, dan 1,5 km berikutnya hujan deras dan selanjutnya panas memanggang lagi.

Gunung-gunung berapi yang sebelumnya adem ayem, senyum bersahabat, pun kini menampakkan taringnya. Diawali beberapa bulan lalu, Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang katanya sudah mati tapi bergejolak lagi. Kemudian disusul Gunung Merapi di Jogja-Jateng yang juga nglilir dari tidurnya. Dan sekarang gunung-gunung berapi lainnya pun ikut bergejolak. Seolah olah mereka iri dengan Sinabung dan Merapi yang begitu diperhatikan para ahli vulkanologi akhir akhir ini.

Dan bangkitnya Merapi , nampaknya, yang paling menghebohkan. Merapi ibarat orang masuk angin, mual-mual dan muntah mulu. Jogja yang panas jadi semakin panas karena Merapi masuk angin. Kaya air dimasukin teko listrik trus dimasukin microwave dan ditaruh di atas kompor, panasnya berlipat lipat. Kalo udah kaya gitu, orang orang cari pelampiasan pada aneka minuman dingin. Ikut seneng deh saya ngeliat yang jualan juice, es pisjo, es doger, milkshake, es dawet ayu cakep, cantik, maupun ganteng, es krim, es buah, es teler, es cincau, es campur, es batu pasir, bata, maupun batako, pada senyum seneng dagangan mereka laris. Tapi itu hanya sampai sekitar dua minggu yang lalu sebelum awan panas menyembur ke segala arah. Sekarang mereka semua pada ngungsi. Sekolah sekolah di Jogja, Magelang, dan sekitarnya diliburkan. Desa desa di lereng Merapi jadi padang abu. Jadi kaya kota mati. Di mana mana debu. Daun nggak hijau lagi, tapi abu abu. Air hujan nggak bening lagi, tapi kecoklatan. Udara nggak bikin lega lagi, tapi bikin bersin. GOR UNY yang biasanya ramai dengan orang jogging jadi ramai dengan orang ngungsi. Gelanggang Mahasiswa UGM yang biasanya ramai orang orang pada kongkow kongkow jadi ramai orang ngungsi juga. Daerah Maguwo yang biasanya bising dengan suara mesin pesawat jadi ramai suara sirine. Dan ternyata nggak hanya Jogja dan seputar Merapi yang ramai dengan kerikil, pasir, dan abu yang turun dari langit, bahkan Ciamis dan Bandung pun ikut dibagi abu oleh Merapi. Merapi emang baik, dia berniat baik membagi abunya sama rata ke berbagai penjuru, tapi sayang niat baik tidak selalu diiringi hasil yang baik. Niat baik Merapi itu pun justru meresahkan.

Tapi tak apalah, saya nggak sepenuhnya marah, sebel, kesel, kecewa karena nglilirnya Merapi. Kenapa? Karena saya jadi libur 1 minggu. Saya juga jadi ngerasain hujan kerikil, pasir, dan abu, juga ketiganya mixed dengan air. Saya jadi kepikiran, kalo saya bisa bertahan 1 minggu aja di Jogja dengan keadaan demikian, mungkin saya jadi bisa langsung buka toko material bangunan tanpa modal sepeser pun. Tapi untung saya masih waras, jadi saya pilih pulang kampung, ngungsi ke kaki Gunung Lawu, home sweet home, dan bercerai dengan jas hujan dan masker. yang harus selalu melekat pada saya setiap keluar rumah di Jogja. Nggak perlu sedih, menggerutu, atau pun marah, semuanya di nikmati aja. Kalo kata iklan rokok enjoy aja, kalo kata Bondan ya sudahlah..., kalo kata She let it flows...

gambar pertama dan ke-2 dari kost saya
gambar ke-3 Jakal Km 5, 5 November 2010, 06.53
gambar ke-4 Stasiun Lempuyangan, 5 November 2010, 12.10



Selasa, 31 Agustus 2010

Cerita Cuci Mencuci

Dua cerita karena cuci mobil. Nggak penting sih, tapi sayang aja kalo nggak ditulis, takut lupa. Kalo lupa kan jadi nggak inget, nggak bisa ngetawain diri sendiri jadinya…


Kejadiannya udah lama, lupa kapan tepatnya.
Tempat : car wash lupa namanya, selatan masjid Al Mukaromah
Kebetulan lagi sepi, cuma ada satu mobil sebelum saya. Saya nunggu di ruang tunggu yang kosong, nggak ada orang. Selang 5 menit ada bapak bapak datang.

Sibapakbapak : nyuciin mobil, mbak?
Kepompong : iya, pak.
Sibapakbapak : masih SMA ya?
Kepompong : iya, pak. ( kebetulan saya pake rok putih, kaya rok seragam SMA. Lagian waktu itu saya belum masuk kuliah, jadi anggap aja masih anak SMA )
Sibapakbapak : SMA mana, mbak?
Kepompong : SMA 1 KRA, pak.
Sibapakbapak : oh, ya deket. Cuma tinggal ke selatan dikit.
Kepompong : hehe, iya, pak. ( iya iya mulu, kaya pembantu baru )
Sibapakbapak : hebat ya anak SMA jaman sekarang.
Kepompong : emang kenapa, pak?
Sibapakbapak : masih SMA aja mobilnya udah Camry. Saya yang udah kerja berratus ratus berpuluh puluh tahun mobilnya cuma Kijang, itu pun tahun 2000
Kepompong : hah? Siapa tuh, pak?
Sibapakbapak : lha ya mbaknya ini. Itu mobil mbak kan? ( sambil nunjuk si camry item )
Kepompong : Bukan, pak! Itu bukan mobil saya. Punya saya yang biru itu, itu pun punya ibu sama bapak saya, saya cuma disuruh nyuciin aja.
Sibapakbapak : oh, saya kira itu mobil mbak.

Kesimpulan :
1. saya punya muka orang kaya. Biar pun masih SMA udah dikira jadi owner Camry.
2. saya punya muka orang rajin nabung. Jadi bisa menang undian tabungan dari BNI/ Mandiri/ entah bank apa, mungkin bangbangtut, dapat si Camry item.



***


Kejadian paling hangat, Minggu kemarin di depan rumah.

Secara ini lagi bulan puasa dengan matahari yang lagi semangat semangatnya membuat orang semakin haus bin dahaga, saya dengan senanga hati menawarkan jasa mencuci mobil tanpa bayaran serupiah maupun segenggam berlian pun kepada ibu saya. Siang siang, panas panas, main air. Betapa indahnya bulan puasa ini. .

Pas lagi seru serunya main air berduet dengan selang air, ada telepon. Angkoooottt!
Ternyata dari temen saya.

Kepompong : halo, assalamua’alaikum.
Temensayadiujungcorong : eh, pembantumu baru ya? ( beuh! Boro boro jawab salam, nanya nomernya bener atau nggak pun tidak )
Kepompong : persimi, ini dari sapa ye?
Temensayadiujungcorong : halah, ini *tiiiittt* ( dia sebut nama ).
Kepompong : oh. Apa tadi? Pembantu baru? Nggak i. Kenape ?
Temensayadiujungcorong : gapapa. Cuma tadi pas lewat rumahmu kok ada sesosok perempuan nyuci mobil. Tak pikir pembantumu baru.

Beeeeehhhh !!! Itu aku, temaaaannnnn !!!!

Saya yang berniat berbuat baik di bulan yang baik ini malah dikira pembantu baru.
*ngusap ingus + air mata.

Kamis, 12 Agustus 2010

The Last Solo Trip

Perjalanan dimulai dari kampus ijo saya.

Dari kampus ijo ke stasiun Lempuyangan naik TransJogja. Ini pertama kalinya saya naik TransJogja, sendiri pula. Jadi saya masih buta. Ijo kaya kampus saya. Begitu masuk halte, petugas langsung menyapa dengan ramahnya plus senyum sumringah karena abis makan rujak, ”Selamat siang, mbak. Mau ke mana ? ”. Saya jawab mau ke stasiun Lempuyangan trus saya bayar 3000 lalu saya daptkan itu TransJogja card yang warnanya ijo kaya kampus saya. *Kok ijo semua ya ?

Saya masukkan itu kartu ijo ke mesin, saya jalan maju ke palang.

Lho kok nggak bisa lewat?

Saya dorong palangnya.

Kok masih nggak bisa lewat?

Saya liat mesinnya lagi.

Ternyata si kartu ijo saya belum masuk.

Dodol Karanganyar eksis di Jogja juga ternyata.

Dari halte kampus ijo ke stasiun Lempuyangan naik bus 2B tanpa transit. Seharusnya 10 menit aja cukup. Tapi apa yang terjadi pada saya? Saya butuh 1 jam!

Jadi ternyata saya salah naik bus. . Akhirnya saya malah keliling Jogja dulu. Transit di kira kira 4 halte sebelum akhirnya turun di halte SMP 5 Kridosono. Emang ya, dodol Karanganyar nggak ada matinya, tetep aja eksis di Jogja.

Dari halte SMP 5 Kridosono saya masih harus naik kaki kira kira 1 km ke stasiun Lempuyangan. Biarpun matahari bersahabat lagi banyak diskon, plus ada tambahan diskon buat pemilik MCC dan banyak pohon yang dengan baiknya membagi suplai oksigen gratis, jalan kaki 1 km di siang bolong tetep bikin kemeja basah dan kerongkongan kelontangan. Tapi tetep asik kok. *menghibur diri.

Ada kejadian yang menegangkan pas saya jalan kaki dari halte. Saya diikuti seseorang. Seorang nenek nenek tepatnya. Nenek itu diem aja, tapi ngikuti saya. Tiap saya nengok si nenek ngliatin saya. Pikiran saya udah ke mana mana.

Nih nenek mau apa ya? Waduh, gimana kalo ternyata nenek itu orang sakti trus saya diculik? Mending kalo punya cucu cakep, saya mau. Lha kalo punyanya kambing cakep? Masa iya saya harus pindah jurusan jadi gebetan kambing??

Kelewat takut, saya setengah lari. Eh, si nenek masih ngikutin juga. Jalannya dicepetin. Bodo amat ah, saya tetep jalan cepet plus rada lari aja. Akhirnya setelah 15 menitan yang berasa 15 hari yang penuh deg deg byar, saya nyampe stasiun. Dan ternyata si nenek masih ngikutin saya!

Masyaallah. Ada apa to ini? Itu nenek siapa? Ya Allah lindungi hambamu yang ramah dan nggak sombong ini.

Nggak tahan deg degan dan penuh tanda tanya mulu, akhirnya saya berani beraniin deketin si nenek dan tanya.

Kepompong : mbah, nyuwun pangapunten, wonten napa nggih kok kit wau ngetutaken kula?
Sinenekmisterius : anu, nak. Kula niki tiyang sepuh (iye, gue juga tau. Keliatan kali rambut mbah udah pada putih). Kula badhe nyuwun toya, kula ngelak, nak.
Kepompong : guling guling di tengah rel, ketawa ketawa ngakak.
Kepompong : oalah, mbah. Lha mbok nggih ngendika kit wau. Menawi ngaten simbah boten isah ngetutaken kula.

Gila aja. Saya udah ketakutan stengah hidup, mikir macem macem, eh ternyata si nenek cuma mau minta air minum. Masyaallah. Konyol banget.

Kelar urusan sama si nenek, pas banget sama kereta datang. Alhamdulillah saya masih dapat tempat duduk. Kereta rada sepi, mungkin lagi nggak musim liburan + belum waktunya para pencari harta pulang kerja kali ya. . Karena kereta yang sepi dan didukung angin sepoi sepoi yang menerobos jendela, jadilah ngantuk menyergap saya. Pas lagi setengah tidur, tiba tiba duarrrr! ada suara yang memekakakan telinga tepat dari arah depan saya. Kaget dong saya. Langsung melek, ilang kantuk saya.

Saya tengok tengok.

Penumpang masih pada asik sendiri.
Kereta juga masih jalan.

Trus, tadi kenapa dong?

Belum ilang penasaran dan kaget saya, tiba tiba suara yang sama terdengar lagi.

Dan ternyata oh ternyata, itu tadi suara anak kecil di depan saya. Masyaallah, nggak nyangka banget deh. Tadi pas saya tengok tengok dia tuh diem aja, asik sama mainannya, tapi ternyata dialah sumber suara berisik nan memekakan telinga. Lebih tepatnya mulut kecilnya yang ngemut dot itulah penyebab suara berisik macam suara kentut gorilla kebanyakan makan ketela.

Di sini pepatah don’t judge a book by its cover bener bener berlaku. Bungkusnya sih imut, innocent, tapi sekalinya buka mulut bikin penging telinga.

Tapi ternyata nggak cuma pita suara anak itu aja yang menggelegar, dia itu super duper aktif, nggak bisa diem. Mungkin karena udah bosen sama mainannya ( padahal belum ada 15 menit perjalanan ), itu anak bergerak mulu, bener bener nggak bisa diem. Awalnya sih cuma di tempat dia, duduk-berdiri-duduk-berdiri gitu gitu mulu, tapi trus dia jadi makin menggila. Lompat lompat di kursi, lari lari di koridor yang untungnya sepi, dan lama lama dia gelantungan di besi dinding kereta. Ampun dah! Masyaallah nih anak. Nyidam apaan ya dulu emaknya pas hamil??

Saya yang cuma ngeliatin aja jadi capek, tapi kayaknya si anakkecilnanaktif itu nggak ada capeknya. Dan taukah Anda apa yang emaknya lakukan?? Jawabannya adalah, jeng jeng jeng

Tidur.

-_______-

Tidur yang bener bener tidur. Pules macam tidur di kamar president suit di sebuah hotel berbintang tujuh + bintang kejora + bintang Pak Jendral. Anaknya lari lari, lompat lompat, gelantungan sambil sesekali menggetarkan pita suara dengan berisiknya nggak mempan mengusik si emak dari tidurnya. Entah kecapekan ato kenapa, tapi si emak anakkecilnanaktif itu benar benar tidur dengan pulas sampai rada mangap gitu.

Hal menarik di kereta siang itu adalah dua orang wanita yang sangat berbeda yang duduk bersebelahan di arah jam 2 di depan saya. Yang satu pake jilbah selebar seprai + abaya yang super longgar lengkap dengan kaos kaki dan sarung tangan, cuma minus burkak aja, dan yang satunya cuma pake baju cuma secuil, tanpa lengan, hanya menutupi setengah paha. Masyaallah, cuma jarak berapa centi aja beda kontras banget, ini contoh nyata pluralisme. Yang satu cuma keliatan mukanya, yang satu keliatan apa apanya. Dan ternyata, mereka itu kakak adik, sodara kandung.

Heleh, tau dari mana kamu, Pong ?? Karena suatu hal ( si embakjilbabseprai minta tisu ) saya nggak sengaja jadi ngobrol sama mereka berdua. Dan terungkaplah bahwa ternyata mereka berdua itu sodara. Saya cuma bisa geleng geleng kepala angguk angguk tunduk tunduk. Asalnya dari rahim yang sama tapi kok bisa beda banget gitu ya??

Tapi dari solo trip saya kemarin itu saya jadi lebih yakin tentang syair dari Imam Syafii :

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah leleh berjuang

Hanya dalam waktu kira kira 3,5 jam saja saya sudah bertemu macam macam orang, mengalami berbagai hal baru, melihat berbagai warna baru, mendengar berbagai suara, merasakan berbagai atmosfer. Apalagi kalo saya benar benar sudah mantap menjadi anak rantau di negeri orang nanti? Betapa banyak hal hal baru yang bisa saya serap untuk memperkaya diri saya. Allah memang Maha Kaya. .

Selasa, 29 Juni 2010

Kalau Bule lagi Belanja di Beteng

Kemarin saya nganter ibu saya beli kain di Beteng. Pas di toko kain ada bule yang lagi belanja kain juga. Si mbak yang jualan nggak bisa Bahasa Inggris, si bule nggak bisa Bahasa Indonesia juga. Duarrrr ! mentok deh.

Awalnya saya cuma ngliatin aja mereka ngomong pake bahasa Tarzan. Lucu deh. Saya ngerti, bisa nangkep apa yang si bule bilang, dalam hati saya juga jawab, tapi saya tahan tahan buat nggak ngomong apa pun. Cuma ngliatin aja, ketawa ketawa sendiri jadinya.

Si bule ngomongnya pelan pelan, kata perkata pake jeda, macam siput lomba lari. Lama lama si mbaknya keliatan kaya frustasi gitu nggak ngerti maksud si bule, si bule juga keliatan udah hampir nyerah , putus asa buat nyampein maksudnya. Geli juga saya ngliatnya. Tapi lama lama saya gatel juga pengen ngomong, biar jelas gitu. Abis tuh 3 orang nggak nyambung nyambung, padahal intinya si bule cuma mau beli kain putih 12 meter.

Nggak tahan sekaligus rada kasian sama muka muka frustasi mereka, saya nyoba bantu, itung itung ngetes Bahasa Inggris saya juga.

Kepompong : mmm, hai. Can I help you? It seems you have a trouble to make the seller understand what you mean.
Bule : Oh, thank God. Yeah. I wanna buy the white one, 12 meters.
Mbakyangjualan : Alhamdulillah. Mbak e niku kit wau kok nggih Mendel mawon lho.
Kepompong :

Trus saya bilang ke mbaknya kalo si bule mau beli kain putih 12 meter. Keliatan lega bener deh muka si mbak sama si bule.

Pas bikin nota, si mbaknya nanya panggilnya miss/ madam. Maksud si mbaknya kalo di Indonesia kan pake Bu Blablabla atau Mbak Blablabla.

Kepompong : How should they call you ? Miss Ka*** or Madam Ka***?
Bule : Ka*** is enough. Why do they need to call me with miss/ madam? My name is enough.

Trus si bule jelasin cara orang orang di negaranya manggil satu sama lain. Cukup panggil nama aja. Nggak kaya di Indonesia yang pake embel embel Pak, Bu, Mbak, Mas, Bang, Kang, dsb. Oooh, saya jadi tau, jadi ngeh.

Oya, si bule itu kemana mana bawa kalkulator buat tawar menawar harga sama yang jualan. Jadi buat tau harganya, si bule minta si pedagang pencet di kalkulator, trus si bule juga pencet kalkulator buat nawar. Jadi nggak perlu ngomong hundred, thousand, million, billion, ribu, ratus, juta, dsb. Katanya sering miisunderstanding kalo ngomongin harga pake mulut gitu. Selain itu kalkulator juga dia pake buat ngitung kurs. Katanya di Indonesia semua murah murah. Berasa jadi orang kaya dia kalo belanja di Indonesia. Tapi si bule rada norak deh. Masa dia bawa bawa kalkulatornya segede ini. Bawa yang kecilan dikit napa. Ini tahun 2010 gitu, udah banyak penemuan, termasuk dibidang kalkulator. Pake kalkulator yang rada manis ditenteng gitu kek. Tapi kenapa si bule nggak pake Hp aja ya? Kan di Hp ada kalkulator juga tuh. Ah, tau ah. Gelap.

Trus si bule jadi cerita macam macam. Jadi curhat aja dia. Dia sering frustasi karena jarang nemu orang yang bisa Bahasa Inggris. Tapi, ampun dah ! Lama lama si bule ngomongnya cepet. Dia kira Bahasa Inggris ane canggih macam Google translator udah built in di otak ane kali. Dan ini nih parahnya orang Indonesia kebanyakan ( masa sih ? Lo aja kali, Pong. ), bisa Bahasa Inggris tapi pasif. Bisa ngerti, nangkep apa yang diomongin tapi nggak bisa kasih feedback. Saya jadi bingung jawabnya, jadi cuma :
Oh
Yeah
Hmm
Oke oke
I see
Lsp.
. Dodol banget deh. .

Si bule juga bilang kalo sebenernya dia seneng belanja belanja batik di tempat macam Beteng gitu, tapi susah buat dia karena kendala bahasa. Sayang banget kan ya jadi kehilangan pembeli, dari luar negeri pula, cuma gara gara masalah komunikasi. Dari situ saya jadi bisa menyimpulkan kalo penguasaan bahasa asing itu penting banget, terutama di dunia bisnis.

Saran buat pengelola BTC, PGS, dan tempat tempat belanja lain ( Pasar Gede, Pasar Legi, Pasar Klithikan, Pasar Kembang, dsb juga termasuk) : sediain deh staf yang Bahasa Inggrisnya canggih biar bisa bantuin bule bule yang belum nelen kamus Inggris-Indonesia pas lagi belanja.
Kan kalo ada yang jadi jembatan ( baca: translator ) gitu jadi gampang transakrinya. Jadi omset pedagang pedagangnya pada naik, jadi lancer bayar uang sewa kiosnya. Kalo kaya gitu yang untung pengelola juga kan? Kan? Kan?



Rabu, 19 Mei 2010

The Journey to Jogjaaaaaa

Kemarin saya ikut temen temen saya yang pada verifikasi pendaftaran STAN di Jogja, tepatnya di Balai Diklat Keuangan III Yogyakarta di Kalasan KM 11. Kitorang berangkat berenambelas, naik motor, bonceng boncengan gitu.

Rencana awal : kumpul di halaman gedung selatan jam 5 pagi, berangkat jam setegah 6. Bawa minum, permen. Pake jaket kelas.
Kenyataan : jam 6.15 baru ngumpul semua. Setengah 7 baru berangkat. Yang bawa minum cuma beberapa aja. Tapi semua pake jaket kelas.

Kalo dipikir pikir emang gila aja jam 5 ngumpul gitu. Saya aja jam 5 baru mau mandi.

Perjalanannya seru. Berasa touring gitu. Kita yang dasarnya satu kelas, satu habitat, punya selera yang klop. Naik motor 2 jam-an nggak gitu berasa capeknya, yang ada ketawa mulu. Apa aja bisa bikin ketawa. Macam orang mabok aja. Banyak ceritanya.

Dari 16 orang yang ada, yang bener bener dateng jam 5 cuma satu orang, itu pun karena dia nggak dari rumah tapi dari kostan dia yang cuma di depan sekolah. Yang lainnya ngaret semua. Khas Indonesia bagian A.4 sekali. . Saya sendiri nyampe halaman gedung selatan jam 05.45. Mundur 45 menit dari jadwal. . Untung saya bukan orang yang terakhir dateng, bisa bisa saya dicaci maki. Udah cuma ngikut, telat ngumpul pula. Setelah semua ngumpul, berdoa, trus kitorang berangkoooooot. Dari 16 orang yang ada, nggak satupun yang tau dengan pasti tempat verifikasinya. Jadi kita ya cuma asal jalan gitu, modal nanya nanya, dan hasilnya kita kebablasan dan ketilang. . 2 motor dari 8 motor yang ada ketilang di depan bandara Adisucipto gara gara ( menurut Pak Polisi ) nerobos lampu merah padahal baru ijo pindah kuning, belon merah. Sebenernya Polisinya nggak ngejar kita, jadi kalo kita terus, nggak muter ya nggak ketilang. Tapi karena sampe bandara aja udah kebablasan ya kita muter, jadi lewatin pos Polisi depan bandara lagi. Kan si Pak Polisi ngehadang kita tuh, kita ngiranya Pak Polisi itu dengan ajaibnya tau kalo kita nyasar trus mau kasih tau rute yang bener, kita udah mikir baek bener ya nih Pak Polisi, tapi ternyata Pak Polisi itu ngehadang buat nilang 2 motor di antara kita. Hahaha. Sama Pak Polisinya disuruh bayar denda tilang Rp 100.000/ motor. Gila aja, kita nggak nerobos lampu merah kok disuruh bayar segitu. Ya kita nawar dong. Setelah membuang 45 menit kita di pos Polisi, akhirnya kita disuruh bayar Rp 100.000 buat 2 motor. Dasar nggak mau rugi, sekalian aja kita tanya jalan ke Balai Diklat Keuangan III sedetail detailnya. Untung aja Polisinya mau jelasin, meskipun dengan sedikit emosi karena kita jadinya bayar cuma setengah harga. Hehehe.

Biarpun udah dikasih tau sedetail detailnya jalan ke tempat verifikasi tetep aja kita pake acara nyasar nyasar dulu dan baru sampe tempat verifikasi sekitar setengah 11. Ampun dah! Banyaknya yang udah pada ngantri. Cuma antri ambil nomor antrian aja 2 jam! Mana panas pula. Huh. Padahal itu udah dibikin jadi 3 lajur lho, tapi kita masih 2 jam aja ngantrinya. Saya yang cuma ikut ikut aja jadi emosi juga.

Kesimpulan saya, berdiri di bawah teriknya sinar matahari selama 2 jam = pugeeeellll.

Belum selesai sampai sini. Selesai antri ambil nomor antrian pas banget sama jam istirahatnya petugas verifikasi. Jadi kita nunggunya dobel, nunggu habisnya jam istirahat petugas verifikasi + nunggu nomor antrian dipanggil. Temen temen saya yang dapet nomor antrian ( kalo nggak salah ) yang paling awal 694 dan yang paling bontot 801 selesai verifikasi sekitar setengah 5, gimana yang dapet nomer 1000-an gitu??? Isya baru kelar kali ye? . Pokonya semua serba antri, antri, dan antri deh. Mau ambil nomer antri, mau verifikasi antri, mau wudlu antri ( padahal kran wudlu ada banyak ), mau sholat antri ( padahal musholanya gede ), mau pipis antri ( padahal toilet nggak cuma 1 ato 2 juga), mau beli minum antri ( padahal yang jual minum banyak ), sampe sampe mau dapetin temapat duduk aja juga musti ngantri. Beratnya mau daftar cari sekolah...

Selesai verifikasi, nggak langsung pulang.Tapi masih pada niat liat tempat ujiannya ntar. Akhirnya ke Kota Jogja dululah kita. Jadi muter muter deh. Gila ya tuh yang pada boncengin. Udah nyetir motor 2 jam dari Karanganyar, trus antri sebegitu lamanya, masih lanjut nyari Universitas Kristen Duta Wacana yang nggak bisa dibilang deket. Saya yang cuma bonceng aja udah pegel.

Pas di jalan dari Balai Diklat Keuangan mau ke Universitas Kristen Duta Wacana ada razia kelengkapan berlalu lintas. Kan ada tuh temen saya yang belum punya SIM, udah pucet aja tuh mukanya. Tapi kita nggak hilang akal, dong. Justru pas situasi kepepet gini otak jalan cepet. Akhirnya dia tukeran posisi sama yang lain. Berasa agen agen rahasia main rundingan gitu. Saya aja speechless, nggak percaya gitu temen saya ada yang bisa silent moving dalam itungan detik tanpa ketauan tuh bapak bapak Polisi yang punya mata macam elang cari mangsa. Hebat, kawan.

Dari perjalanan kali ini saya jadi tau kalo kita kita ini pada banci gratisan. . Tiap ada SPBU kinclong dikit, pasti udah pada kebelet mampir deh. Kan di SPBU yang kinclong gitu pasti ada mushola bersih yang gratis, toilet bersih yang gratis, isi angin gratis, dan beberapa hal lain yang gratis. Biar pun nggak butuh, tetep aja mampir, dibutuh butuhin. Pernah nih sekali waktu karena emang udah pada sholat, nggak ada yang kebelet pipis, ban juga nggak butuh tambah angin, tapi karena sayang aja ada graisan nggak dimanfaatin, ban motor dikempesin dikit trus diisi pake fasilitas isi angin gratis. Emang dasar banci gratisan ye...

Tapi yang paling sedih, nih, temen saya kehilangan dompetnya. Nggak tau deh di mana ilangnya. Tau kalo dompetnya ilang pas udah nyampek Solo, pas mau bayar sego kucing. Di dompet dia itu ada KTP, SIM, flashdisk, sama duit Rp 100.000. Saya yang nggak kehilangan aja berasa sedih gimana gitu. Kasian bener, deh, dia. Sampe nggak doyan makan gitu. Padahal sebelumnya dia obor obor kalo laper gitu.

Untung aja ( biarpun udah sial, tetep aja masih bilang untung. Dasar wong Jawa ) selama perjalanan kemarin cuaca bersahabat, biarpun rada mendung tapi nggak ujan. Tapi biarpun udah ketilang, musti berdiri panas panasan + nglesot nggak jelas buat antri verifikasi, masih aja ada bonus ban pake acara bocor pas pulang. Sebenernya pas berhenti udah pas di tempat tambal ban, tapi sialnya udah tutup. Harus nuntun motor dulu kira kira 500 meter deh. Kita yang berangkat bareng bareng berenambelas, biarpun yang ketilang cuma 4 orang dan yang bannya bocor cuma 1 motor, tapi kita nunggunya tetep berenambelas. Rasanya gimana gitu kalo mau ninggal temen. Bukan karena nggak enak a.k.a pekewuh, tapi karena emang rasanya nggak mau ninggal, pengennya nungguin aja. Seneng bareng, susah ya harus bareng bareng. Satu kena masalah, yang lain berasa kena masalah juga. Mulai dari roti sebungkus dibagi buat berenambelas macam jaman Indonesia belum merdeka, rujak yang sebungkus cuma Rp 2500 dimakan rame rame berenambelas, iuran buat bayar uang tilang, malem malem nglesot di trotoar nungguin ban selesai ditambal, curcol curcol nggak jelas, sibuk ngetawain apa aja, pokoknya adanya cuma ketawa ketiwi nggak jelas gitu. Becanda mulu. Biar garing juga tetep aja jadi bahan ketawaan. Saya bener bener nemuin apa itu kesetiakawanan. Jadi terharu deh saya. Sayang banget bentar lagi kita udah nggak bisa sekelas lagi... Hiks...


pas di jalan


di salah satu surga gratisan. tapi minum dan snack nggak gratis, kitorang beli di mini marketnya. tapi sumprit, deh. murce! lebih murce dari tempat manapun saya pernah jajan.
di sana kita numpang nonton tv juga. pas liat berita kerusuhan di Thailand, mulai deh kita sok komentar.
" misal aku wis lulus saka STAN ki, aku ...blablabla..." ( padahal ketrima aja belon )
" wah, nggak bener iku. anarkis begete. haruse ki ...blablabla..."

di halaman Universitas Kristen Duta Wacana

yang nuntun sepeda nyari tambal ban

Jumat, 14 Mei 2010

Get Married


Sebenernya sebelumnya saya udah nonton 2 film ini di bioskop, tapi ini tadi saya nonton lagi.
Iseng iseng tadi sore saya silaturahmi ke MovieTime trus pinjem GM 1 dan 2 sekaligus. Bener nih cuma iseng, Pong? Nggak juga sih. Rada pake niat sih sebenernya. Hehehe . Gara garanya pas Indonesia Movie Award kemarin GM 2 kepilih jadi beberapa nominasi, jadilah saya pengen nonton lagi.

Jadi tadi saya sewa GM 1 dan 2 sekaligus. Kalo dulu nontonnya kan pisah pisah, secara ( ceileee, pake secara ) rilisnya nggak bareng gitu, pake jeda lama pula, tadi saya nontonnya langsung nyambung. Maraton gitu. GM 1 kelar, langsung lanjut GM 2. Ternyata dengan begini asik euy. Nyambung banget. Jadi ngeh banget sama ceritanya. Kalo dulu saya nonton cuma asal nonton gitu, tadi beda. Dulu yang ada cuma ketawa aja. Tapi tadi nggak. Kalo kata orang Belanda lebih bisa menghayati filmnya. Lah film komedi gitu menghayati gimana maksudnya, Pong? Nggak tau juga ye, tapi beneran deh tadi saya sempet menitikan air mata ( halah. ribet. bilang aja mewek ) pas si Rendy berjuang biar nggak jadi cerai sama Mae. Lucu sih sebenernya, tapi nggak tau juga ye saya ngerasa it's so sweet macem gula jawa gitu.

Di GM 2 ceritanya kan rumah tangga Mae-Rendy nasibnya di ujung tanduk tuh, mau cerai gitu. Si Mae memulangkan diri ke rumah bapak ibunya gara gara dia marah ke Rendy yang terlalu sibuk sama kerjaannya dan Mae mengira si Rendy selingkuh. Rendy yang eksmud gitu bela belain luangin waktu pas meeting buat ketemu Mae di rumahnya yang ternyata bukannya ketemu sang istri tapi malah didamprat sama Jaja Miharja ( bapaknya Mae ). Trus pas Mae hamil. Begitu tau istrinya hamil, datenglah si Rendy ke rumah bapaknya Mae. Didamprat lagi deh sama Jaja Miharja. Tapi si Rendy malah teriak teriak di depan kamar Mae gitu, niatnya ngomong sama Mae. Mae nggak jawab, si Rendy tetep nungguin, kujanan pula. Sayang deh cowok cakep cekep gitu dianggurin kujanan *tampar, plaaaaaak. Cerita lengkapnya ( kalo belum nonton ) silakan tanya resensi filmnya ke mbah google ato langsung aja nonton filmnya.

GM 1 dan 2 emang film komedi, tapi yang GM 2 ( menurut saya ) ada unsur romantisnya gitu. Tentang gimana seharusnya cara cowok memperlakukan cewek. Nggak perlu muluk muluk, simpel tapi manis aja udah cukup. Pokoknya menurut saya, setelah nonton ni film untuk kedua kalinya, fllm ini nggak cuma bikin ketawa aja.

Masih tentang Get Married juga, tapi yang ini di dunia nyata.
Tetangga, tepatnya anak Pak RW, saya mau nikah. Ternyata nyiapin pernikahan itu repot begete ya. Ini yang mau nikah anak Pak RW yang notabene nggak ada hubungan sodara sama saya, cuma pure tetangga satu RT, satu RW, satu deret rumahnya, satu nama jalan, tapi saya ( saya sodara2. saya. saya yang cuma anakbarululusSMAbelomjadimahasiswaijazahajabelomdapet ) kecipratan ribetnya ngurusin persiapan nikahnya. Gila deh. Kalo ada sodara saya yang mau nikah aja saya nggak terseret dalam ribetnya bikin persiapan, eh ini yang tetangga saya malah kecipratan bikin persiapannya. Tapi ya nggak apalah, ini seninya hidup bertetangga. Itung itung ngisi liburan.

Jadi begini mula bukane. Pak RW saya itu ikrib sama bapak saya. Bu RW itu juga ikrib sama ibu saya. Ditambah lagi Bu RW itu mantan guru saya pas SMP. Dulu pas Pak RW mantu anak pertama dan kedua, saya masih kicik, masih SD ato SMP awal awal gitu, jadi belum bisa dimintai bantuan ato apalah gitu. Tapi sekarang saya udah rada pinteran, udah punya KTP, ditambah lagi saya lagi liburan masa transisi yang membingungkan ini ( anak SMA bukan tapi anak kuliah juga bukan ), saya jadi diminta buat bantu bantu. Biar cuma bantuin hal hal kecil macam ikut dateng pas rapat panita kecil sama pas Kombokarnan sebagai wakil dari Karang Taruna ( padahal saya bukan anggota karang Taruna yang baik, percayalah ), harus mau jadi dayang nyang jaga souvenir biar kagak ada yang ambil dobel ( saya yakin pasti akan ada cerita menarik, ntar insyaallah saya posting ), bikin pembagian jadwal sinoman yang jaga di rumah ( padahal saya nggak ngerti siapa aja orang orangnya. nggak apal. lha wong naujubileh banyaknya. 1 RW gitu ) yang seharusnya dibikin sama sama ketua karangtaruna tapi malah dikasih ke saya, dan bantuin hal hal kecil lain, tapi saya ngerasain itu semua ribet. Nggak tau karena ini bukan saya yang mau punya gawe ato gimana ye, tapi sumprit deh, ini semua tuh ribet. Kebayang betapa hectic dan capeknya ngurus ini itu yang ( menurut saya ) nggak penting. Orang nikah kan intinya ijab-qabul, sah menurut agama dan negara, beres. Masalah resepsi nggak penting penting banget kan? Kalo ada dana ya bikin resepsi, nggak ada ya udah. Tapi yang ada sekarang kok kayaknya malah kebalik gitu. Yang penting resepsinya. Yang ribet disiapin resepsinya. Pada jor joran duit bikin resepsi semeriah mungkin. Kalo di tempat si itu kemarin gitu, di tempat aku harus bisa gini, yang lebih dari itu. Kalo dia pake catering ini, aku mau pake catering itu. Blablabla. Jadi semacam ajang menunjukan dan mendongkrak status sosial gitu. Tapi semoga di tempat Pak RW saya ini nggak dilatar belakangi hal hal macem gitu.

Minggu, 09 Agustus 2009

Kesimpulan Minggu ini

Hari ini saya ikut try out masuk STAN yang diadain sama Yayasan Iwangsari. Try outnya di Gor Manahan. Ternyata yang berminat ikut buanyak, sampai overload. Di dalem gor jadi panas. Saya dateng rada telat dan akhirnya harus terima bahwa saya nggak dapat tempat duduk. huhuhu. Akhirnya mau nggak mau nglesotlah saya bersama kawan-kawan.

Sebenarnya dari awal saya rada nggak minat tapi berhubung sudah daftar ya apa boleh buat, berangkat ajalah daripada mubazir. Mau berangkat aja sudah bingung-bingung. Bingung berangkat jam berapa, nggak jelas. Sampai di tempatnya bingung lagi deh, bingung cari tempat. hahahuhuhihi. Pas ngerjain bingung lagi. Bukan bingung mana jawaban yang bener tapi bingung gimana biar saya nyaman. Panasnya ruanga bikin kulit saya merah-merah perih, jadi nggak bisa konsen. huhuhuhu. Untunglah disesi ke 2 dibolehin ngerjain di luar sama panitia. Tapi lagi-lagi saya harus nglesot. Payah-payah!

Try out selesai tapi ternyata bingungnya belum selesai. Saya lapar! huhuhuh. Cacing-cacing dalam perut sudah konser, minta dikasih makan. Tapi bingung lagi mau makan di mana. Sebenarnya saya nggak bingung, tapi kawan-kawan saya yang bikin bingung. Akhirnya dengan konser heboh di perut saya, kami muter-muter cari tempat makan. Udah buang-buang waktu buat muter-muter, eh ternyata oh ternyata jadinya makan di tempat yang saya sebut dari awal. Mbok ya bilang aja kalau setuju dari awal, kan saya jadi nggak perlu menikmati konser heboh di perut. Huh!

Kesimpulannya saya bingungan! Aduh-aduh, kacau!

Kamis, 04 Juni 2009

UUB

UUB sudah di depan mata. .
doakan saya bisa :
1. lancar-lancar saja menghadapinya
2. mudah-mudah saja mengerjakan
3. sehat walafiyat menghadapinya
4. bisa mencapai angka maut yang ditetapkan

Kesimpulanya : doakan saya mau menghadapi UUB. .

Jumat, 27 Maret 2009

Helmku sayang, helmku malang. .

Jauh kau dicuri meninggalkan diriku. .
Di sini aku merindukan dirimu,oh helmkuuu. .

Indonesia, Indonesia. . (geleng-geleng kepala).
Helm aja dicuri. Di Indonesia semuanya itu berpeluang dicuri, soalny apa aja bisa jadi duit kalo di Indonesia. Mulai dari mangga mentah (ini masih mentah! Asem luar biasa) sampai mobil (ukurannya gede!! gag bisa dimasukin karung!!) semua dicuri. Jemuran yang belum kering aja dicuri!! Gila-gila!

Emang helmku gag sepenuhnya dicuri, cuma "dituker" sama helm dekil, bau, gag tau udah kena kringat siapa aja. Tapi tetep aja nyebelin kan?? Nonton cuma 15ribu jadi 115ribu deh, gara-gara harus pajak (baca 'beli') helm ke tukang helm. Katanya cuma dituker, kug pake beli helm?? Ya iyalah, helmku yg aku tau keaadaan kebersihannya itu dituker sama helm dekil, ya kan ogah banget pakenya. Biar dituker sama helm lain, tapi kalo keaadaannya mengenaskan gitu jadi gag berasa dituker kan? Brasa dicuri!! Huaaa!! thanks to the God atas apa yang dia punya. Udah punya helm sendiri gag disyukuri malah dituker sama helm orng lain. Tapi dari situ aja jadi tau kalo aku emang punya good taste (seleraku oke punya!), sampai-sampai helmku dipengenin orang gitu.



Ini lho helm yang ilang itu. . .

ADA APA DENGAN JERAWAT???

Apa yang kebayang kalo kamu dpt libur 5 hari?? seneng kan?? gut! gut! gut! tapi kalo aku nih, gag seneng! tapi sueneeeeeng banget!!! kebayang dong dapat waktu rehat 5 hari dari PR2, tugas2, ulangan2, ocehan+ceramah guru2 yang ngomongnya semangat pangkat 45 sampe berbusa busa gitu... udah kebayang seharian santai-santai di rumah, gag mikir pelajaran, gag mikir harus berangkat pagi-pagi, yang ada cuma santaiiiiii, enjoy me time!!! dan itu berlangsung selama 5 hari berturut"!!!! asik gag tuh?!! perfect deh!

tapi,tapi,tapi... semua itu hilang lenyap menguap jadi gumpalan asap gitu aja pas lbur tlah usai... hiks... say good bye to me time and say welcome to the battle day... sebenarnya gag separah itu sampai aku berangkat sekolah. sampe di sekolah, sang sekuriti sekolah yang merangkap jadi tukang parkir deketin aku.
sangsekuritisekolah : prei 5 dina mikir apa t,ndhuk?
aku : ??? (bingung)
sangsekuritisekolah : bar prei 5 ding ngono weh mlebu langsung jerawatan. hahaha
aku : (nyengir)

emang sih kmaren pas lagi 'dapet' aku dapet bonus jerawat satu gede nongol d hidung. seumur umur baru kali ini aku punya jerwat yang punya potensi show off gini. di ujung hidung pula!! awalnya aku biasa" aja sampe si sekuriti sekolah ngomong gitu. aku baru nyadar kalo ternyata sijerawattengil ini jelas terpadang. payah! payah! payah! kacao! kacao! kacao!

dan ternyata itu tidak usai sampai di situ saja. baru naik tangga mau ke kelas, ketemulah aku dengan seorang teman.
seorangtemanitu : (cengar cengir)
aku : knp?
seorangtemanitu : gagpapa kug. tapi gag ketemu lima hari tambah mancung aja tu hidung. hehehe
aku : (bengong)

sampai di kelas, belum sempat taruh tas, seorang teman (lagi) cengar cengir (lagi).
aku : knp?
seorangtemanyanglainitu : ah, gagpapa (nyengir kuda. tapi emang mirip kuda!)
aku : yang bener?
seorangtemanyanglainitu : beneran deh! tapi hebat juga, libur 5 hari aja dapet rejeki nomplok gitu... hehehe (nunjuk hidung)

seharian tiap ngomong sama siapa aja pasti yang pertama dikomentari sijerawattengil. heran... cuma jerawat sebiji gini aja ampuh banget narik perhatian kawan" sekalian. kalo tag pikir", emang kenapa kalo dapat rejeki sebiji jerawat yang nangkring dengan indahnya di hidung?? emang sih ini yang pertama (dan semoga yang terakhir,amiin), tapi gag perlu kan jadi bikin aku bingung gini. awalnya oke" aja tuh sampai libur telah usai dan sekolah mulai lagi, orang" yang ketemu pada komentar, kan aku jadi bingung bin malu sendiri. jadi salting giling!