Tampilkan postingan dengan label dari film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dari film. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 September 2012

Inside Out

In Finding Forrester, William Forrester said “In some cultures, it is considered as a good luck to wear something inside out” when Jamal asked him why he was wearing his socks inside out. Actually, it's because he felt uncomfortable with the socks’ sewing design which has the hed inside, it hurt his feets. So, he worn his socks inside out.

I acknowledge William Forrester’ style in wearing his socks. I think that is the comfortable way in wearing socks. Once, when I was in kindergarten, I found that wearing socks inside out was comfortable, but as my mom said I should not do that, I did not do that. Anyway, it is another story now. I am on my own responsibility to decide what to wear and how to wear. Then, I am used to wearing my socks inside out.

See? Sometime, we need to break the rules. A wise man knows when to break the rules.


Senin, 13 September 2010

Being Perfect?

“Being perfect is not about that scoreboard out there. It’s not about winning. It’s about you and your relationship with yourself, your family and your friends. Being perfect is about being able to look your friends in the eye and know that you didn’t let them down because you told them the truth. And that truth is you did everything you could. There wasn’t one more thing you could have done. Can you live in that moment as best you can, with clear eyes, and love in your heart, with joy in your heart? If you can do that gentleman - you’re perfect!”
-Coach Gary Gaines-Friday Night Lights
I'm sure it's pretty hard to be done. But, why don't we try?

Minggu, 08 Agustus 2010

Eclipse


Oke, mungkin ini telat, basi, atau apalah terserah. Tapi saya emang niat nulis ini baru sekarang, pas udah rada lama setelah pemutaran film, pas filmnya udah nggak diputer di bioskop lagi.

Kenapa?

Karena saya nggak mau jadi spoiler buat yang belum nonton. Kan kalo sekarang pasti udah pada nonton, jadi saya nggak jadi spoiler deh.

Saya nonton Eclipse ini sampe 2 kali. Bukan karena saya Twilight freak ( saya emang bukan Twilight freak), tapi karena film yang pengen saya tonton nggak diputer di Solo. Hiks. Nyesek deh.

Pas filmnya baru mulai : *tengok tengok kanan kiri. Ini salah masuk studio nggak ya?

5 menit kemudian : hmm. peerasaan di buku nggak gitu gitu banget deh.

10 menit kemudian : oke, nih film lebay.

15 menit kemudian : bingung mau kecewa ato senang.

Seperti dua film sebelumnya, Eclipse masih bercerita tentang kisah cinta yang too romantic to be true antara manusia (Bella ) dengan vampire vegetarian ( Edward ) yang disisipi werewolf ( Jacob ). Kali ini ceritanya tentang Bella yang diburu Victoria, vampir perempuan yang dendam ke Bella karena pasangannya ( James ) dibunuh Edward. Victoria berusaha membalas dendamnya ke Edward dengan cara bunuh Bella biar Edward juga ngerasain gimana rasanya kehilangan pasangan macam yang Victoria rasain. Victoria kemudian bikin sekelompok pasukan vampir dengan menciptakan Rilley sebagai permulaan. Rilley kemudian dijadikan bonekanya dalam membangun tentara vampirnya.

Kalo dibandingin sama bukunya, bisa dibilang film ini rada too much, tapi intinya tetap sama kok. Dan menurut saya adalah hal yang salah bila berharap film yang based on the novel by blablabla bisa sma seperti bukunya. Kalo sama, ngapain dibikin film?? buang buang waktu+biaya aja. Film dibikin itu buat kasih sesuatu yang beda tentang cerita itu namun intinya tetap sama.

Satu yang saya suka dari Eclipse the movie adalah more action. I do like it!

Tapi meski pun adegan adegan action di film ini lebih banyak, adegan pertarungan The Cullen-werewolf vs. Victoria's army kurang nendang deh. Kurang ngena gitu. Ngambang. Adegan yang paling ditunggu tunggu itu jadi nggak berasa kalo udah lewat. Saya terus terang sangat menunggu adegan pertarungan Victoria vs. Edward. Tapi ternyata oh ternyata, nggak ada rasanya. Saya speechless. Yang ada di kepala saya pas pertarungan itu usai Hah? Udah? Gitu doang?? Bener bener jauh dari yang diharapkan.

Tapi emang dari sononya nih film genre-nya drama sih ya, jadi dengan komposisi adegan action segitu ya cukuplah.

I love Edward but Jacob as well. Taylor Lautner makin keren aja deh. Mainnya juga makin oke. Tapi dari sekian werewolf, yang badannya keren cuma si Taylor Lautner deh.

Dakota Fanning mainnya bagus di film ini. Emang dasarnya so talented in this field kali ya si Dakota itu. Dakota berperan sebagai Jane, salah satu dari The Volturi. Ampun deh, bener bener kaya vampir. Ekspresinya itu bikin merinding. Dingin.


Overall film ini masih sesuai sama plot cerita bikinan Stephenenie Meyer, nggak percuma buat ditonton, nggak mengecewakan meskipun tidak cukup menyenangkan juga. Worth to see.
Tapi kok saya ngerasa Kristen Steward-Robert Pattinson chemistry-nya rada nggak se-oke 2 film sebelumnya ya?

Dan quotation favorit saya di film ini adalah pidatonya Jessica Stanley waktu upacara kelulusan. Kira kira begini :

"When we were five, they asked us what we wanted to be when we grew up. Our answers were things like astronaut, president, or in my case… princess.

When we were ten, they asked again and we answered - rock star, cowboy, or in my case, gold medalist. But now that we've grown up, they want a serious answer. Well, how 'bout this: who the hell knows?!

This isn't the time to make hard and fast decisions, its time to make mistakes. Take the wrong train and get stuck somewhere chill. Fall in love - a lot. Major in philosophy 'cause there's no way to make a career out of that. Change your mind. Then change it again, because nothing is permanent.

So make as many mistakes as you can. That way, someday, when they ask again what we want to be… we won't have to guess. We'll know."

Sabtu, 05 Juni 2010

like this, love this :)



I badly love this quotation.
Happiness can be found, even in the darkest of times, if one only remembers to turn on the light.
(Albus Dumbledore)
And after I did a little work with my camera then combine it with J.K.Rowling great work, I love it more, more, and more

Jumat, 14 Mei 2010

Get Married


Sebenernya sebelumnya saya udah nonton 2 film ini di bioskop, tapi ini tadi saya nonton lagi.
Iseng iseng tadi sore saya silaturahmi ke MovieTime trus pinjem GM 1 dan 2 sekaligus. Bener nih cuma iseng, Pong? Nggak juga sih. Rada pake niat sih sebenernya. Hehehe . Gara garanya pas Indonesia Movie Award kemarin GM 2 kepilih jadi beberapa nominasi, jadilah saya pengen nonton lagi.

Jadi tadi saya sewa GM 1 dan 2 sekaligus. Kalo dulu nontonnya kan pisah pisah, secara ( ceileee, pake secara ) rilisnya nggak bareng gitu, pake jeda lama pula, tadi saya nontonnya langsung nyambung. Maraton gitu. GM 1 kelar, langsung lanjut GM 2. Ternyata dengan begini asik euy. Nyambung banget. Jadi ngeh banget sama ceritanya. Kalo dulu saya nonton cuma asal nonton gitu, tadi beda. Dulu yang ada cuma ketawa aja. Tapi tadi nggak. Kalo kata orang Belanda lebih bisa menghayati filmnya. Lah film komedi gitu menghayati gimana maksudnya, Pong? Nggak tau juga ye, tapi beneran deh tadi saya sempet menitikan air mata ( halah. ribet. bilang aja mewek ) pas si Rendy berjuang biar nggak jadi cerai sama Mae. Lucu sih sebenernya, tapi nggak tau juga ye saya ngerasa it's so sweet macem gula jawa gitu.

Di GM 2 ceritanya kan rumah tangga Mae-Rendy nasibnya di ujung tanduk tuh, mau cerai gitu. Si Mae memulangkan diri ke rumah bapak ibunya gara gara dia marah ke Rendy yang terlalu sibuk sama kerjaannya dan Mae mengira si Rendy selingkuh. Rendy yang eksmud gitu bela belain luangin waktu pas meeting buat ketemu Mae di rumahnya yang ternyata bukannya ketemu sang istri tapi malah didamprat sama Jaja Miharja ( bapaknya Mae ). Trus pas Mae hamil. Begitu tau istrinya hamil, datenglah si Rendy ke rumah bapaknya Mae. Didamprat lagi deh sama Jaja Miharja. Tapi si Rendy malah teriak teriak di depan kamar Mae gitu, niatnya ngomong sama Mae. Mae nggak jawab, si Rendy tetep nungguin, kujanan pula. Sayang deh cowok cakep cekep gitu dianggurin kujanan *tampar, plaaaaaak. Cerita lengkapnya ( kalo belum nonton ) silakan tanya resensi filmnya ke mbah google ato langsung aja nonton filmnya.

GM 1 dan 2 emang film komedi, tapi yang GM 2 ( menurut saya ) ada unsur romantisnya gitu. Tentang gimana seharusnya cara cowok memperlakukan cewek. Nggak perlu muluk muluk, simpel tapi manis aja udah cukup. Pokoknya menurut saya, setelah nonton ni film untuk kedua kalinya, fllm ini nggak cuma bikin ketawa aja.

Masih tentang Get Married juga, tapi yang ini di dunia nyata.
Tetangga, tepatnya anak Pak RW, saya mau nikah. Ternyata nyiapin pernikahan itu repot begete ya. Ini yang mau nikah anak Pak RW yang notabene nggak ada hubungan sodara sama saya, cuma pure tetangga satu RT, satu RW, satu deret rumahnya, satu nama jalan, tapi saya ( saya sodara2. saya. saya yang cuma anakbarululusSMAbelomjadimahasiswaijazahajabelomdapet ) kecipratan ribetnya ngurusin persiapan nikahnya. Gila deh. Kalo ada sodara saya yang mau nikah aja saya nggak terseret dalam ribetnya bikin persiapan, eh ini yang tetangga saya malah kecipratan bikin persiapannya. Tapi ya nggak apalah, ini seninya hidup bertetangga. Itung itung ngisi liburan.

Jadi begini mula bukane. Pak RW saya itu ikrib sama bapak saya. Bu RW itu juga ikrib sama ibu saya. Ditambah lagi Bu RW itu mantan guru saya pas SMP. Dulu pas Pak RW mantu anak pertama dan kedua, saya masih kicik, masih SD ato SMP awal awal gitu, jadi belum bisa dimintai bantuan ato apalah gitu. Tapi sekarang saya udah rada pinteran, udah punya KTP, ditambah lagi saya lagi liburan masa transisi yang membingungkan ini ( anak SMA bukan tapi anak kuliah juga bukan ), saya jadi diminta buat bantu bantu. Biar cuma bantuin hal hal kecil macam ikut dateng pas rapat panita kecil sama pas Kombokarnan sebagai wakil dari Karang Taruna ( padahal saya bukan anggota karang Taruna yang baik, percayalah ), harus mau jadi dayang nyang jaga souvenir biar kagak ada yang ambil dobel ( saya yakin pasti akan ada cerita menarik, ntar insyaallah saya posting ), bikin pembagian jadwal sinoman yang jaga di rumah ( padahal saya nggak ngerti siapa aja orang orangnya. nggak apal. lha wong naujubileh banyaknya. 1 RW gitu ) yang seharusnya dibikin sama sama ketua karangtaruna tapi malah dikasih ke saya, dan bantuin hal hal kecil lain, tapi saya ngerasain itu semua ribet. Nggak tau karena ini bukan saya yang mau punya gawe ato gimana ye, tapi sumprit deh, ini semua tuh ribet. Kebayang betapa hectic dan capeknya ngurus ini itu yang ( menurut saya ) nggak penting. Orang nikah kan intinya ijab-qabul, sah menurut agama dan negara, beres. Masalah resepsi nggak penting penting banget kan? Kalo ada dana ya bikin resepsi, nggak ada ya udah. Tapi yang ada sekarang kok kayaknya malah kebalik gitu. Yang penting resepsinya. Yang ribet disiapin resepsinya. Pada jor joran duit bikin resepsi semeriah mungkin. Kalo di tempat si itu kemarin gitu, di tempat aku harus bisa gini, yang lebih dari itu. Kalo dia pake catering ini, aku mau pake catering itu. Blablabla. Jadi semacam ajang menunjukan dan mendongkrak status sosial gitu. Tapi semoga di tempat Pak RW saya ini nggak dilatar belakangi hal hal macem gitu.

Selasa, 08 Desember 2009

Angel's Diary


Ini tentang salah satu serial televisi, Angel’s Diary, tontonan saya tiap hari Senin sampai Jumat. Nggak tau kenapa saya suka nonton itu. Mungkin karena durasinya yang cuma 30 menit, alur ceritanya nggak terlalu njlimet, jadi nggak bikin bosen. Tiap jam 7 malem teng, maka saya jadi orang paling egois di rumah. Nggak ada yang boleh ganggu saya nonton tv di ruang tengah, yang lain kalo mau nonton tv silakan nonton di kamar. Karena saya yang keranjingan ini, maka ibu saya jadi cuap-cuap. Disuruhah saya jadi Angel Wanna Be. Hahaha. Emang konyol ibu saya itu. Katanya biar saya nggak ngambek ngambekan lagi, biar otak saya nggak overload, biar saya nggak ngeluh ngeluh sakit tengkuk, saya disuruh jadi kaya Angel yang ke mana mana bawa laptop buat curhat. Alhasil saya dihibahi laptop retro bapak ( nggak tega mau bilang kuno). Kalo dipikir pikir, punya diary itu oke juga. Jadi punya kenangan ( tapi seringnya cuma tentang yang sedih sedih, hehehe). Jadi sering nulis. Ya kaya saya ini, kalo lagi suntukpunyamasalahngeluhngeluhdotcom jadi sering nulis. Hehehe. Tapi saya jadi bingung, gimana sih nulis diary itu??

Minggu, 13 September 2009

Flightplan, Film Tentang Contoh Hebatnya para Ibu


Semalam saya nonton Flightplan untuk kesekian kalinya. Dan untuk yang kemarin akhirnya saya nonton sampai selesai. Uh! Bener-bener touching, exhilarting, pumps the adrenalin. Tapi satu hal yang paling ngena dipikiran saya dan bikin saya bener-bener sadar dan paham tentang suatu hal. Suatu hal itu adalah kasih ibu bener-bener sepanjang jalan lintas pulau, lintas benua, lintas samudra, ngider nggak ada putusnya di permukaan bumi yang bulat ini.

Film itu critanya tentang ibu yang naik pesawat sama putri kecilnya. Tau-tau pas di dalem pesawat putrinya itu ilang. Dan ternyata putrinya itu diculik sama pembajak pesawat itu dan ditaruh di ruang mesin dalam keadaan tidur lelap dibawah pengaruh obat bius. Tujuan penculikannya untuk melancarkan aksi pembajakan tanpa menarik perhatian orang lain dan membuka kedok si pembajak sehingga nggak ada satu orang pun di pesawat itu, kecuali si ibu, yang nyadar kalau pesawat itu lagi dibajak secara rapi dan terselubung. Si ibu yang nyadar putrinya ilang jelas langsung panik. Tapi nggak ada orang di pesawat itu percaya kalau putri ibu itu ilang kecuali 2 bocah yang juga penumpang pesawat itu. Semua penumpang+awak pesawat yakin kalau putri ibu itu emang dari awal nggak naik pesawat, apalagi ditambah nggak adanya nama putri ibu itu di daftar nama penumpang. Si ibu tetep yakin putrinya diculik dan ditaruh disalah satu ruang di pesawat itu. Si ibu yang ternyata seorang teknisi di sebuah maskapai penerbangan udah pasti tau seluk beluk pesawat akhirnya nyari putrinya di seluruh bagian pesawat. Saya nggak perlu ceritain semuanya, tapi intinya pada akhir cerita si ibu itu bisa nemuin putrinya yang disembunyiin di ruang mesin dan ngebuktiin kalau dia nggak gila kaya anggapan orang orang di dalem pesawat. Untuk cerita lengkapnya silakan saksikan Flightplan. Intinya seorang ibu itu berusaha keras nemuin putrinya, nggak peduli apa orang bilang tentang dia, nggak peduli apapun rintangannya.

Semua itu kasih liat kalau seorang ibu itu punya intuisi yang bener bener kuat tentang anak-anaknya dan selalu berusaha melakukan yang terbaik buat anak anaknya. Itu sedikit dari sekian banyak bukti kasih ibu yang bener bener tulus dan tiada akhir.