Tampilkan postingan dengan label dari otak dan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dari otak dan hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2012

Every Cloud Has A Silver Lining

Yes, every cloud has a silver lining and I am looking for the silver lining appears in my cloudy sky...

This is holiday and I am glad about that. Plenty of cool stuffs are waiting to have fun with. But it was two days ago. Dunno what is going on, these last two days seemed a bit ummm.... let's say I am not on the track. I am out of the track. And as the matter of fact that my mom is away for these coming two days makes me afraid of out of the direction more and more and getting lost.

Anyway, it drizzles now...

I am waiting for "Mother Mary comes to me, speaking words of wisdom ,let it be...."
-The Beatles-Let It Be

Jumat, 16 September 2011

Ramadhan goes by, the elation remains...


Ini masih bulan Syawal kan? Dan nggak ada kata terlambat untuk meminta maaf kan? Iya kan? Kan?

Selamat Idul Fitri 1432 H. Maaf lahir batin yaaa...

Tapi saya agak heran, kenapa kok tiap Lebaran jadi pada rajin maaf-maafan? Itu tradisi atau memang perintah dari Yang Maha Sempurna? Terus, sebenarnya Lebaran itu apa? Sampai sekarang, otak saya mencerna Lebaran berasal dari kata “Lebur” dengan akhiran-an. Jadi lebaran equals leburan. Mungkin maksudnya melebur semua yang negatif-negatif setelah menjadi kepompong (puasa) selama sebulan, gitu ya?

Entahlah...

Ramadhan tahun ini rasanya seperti kedipan mata ekspres buat saya. Rasanya baru kemarin bangun jam 3 pagi gara-gara suara toa masjid koar-koar bangunin buat sahur, tau-tau udah shalat pake takbir 7x (Shalat Ied), tau-tau udah ngicip nastar, kastengel, sama sirup cocopandan di kira-kira selusin rumah sodara. Fiuhhhhh! Cepet bener ye?

Meskipun rasanya super ekspres, saya tetap menikmati Ramadhan kemarin. Hausnya pas puasa, betapa gondoknya kalo liat iklan sirup pas siang-siang, berisiknya resistal piano di perut (perut saya kalo laper suaranya merdu gilak), susahnya kelopak mata diajak kerja sama pas sahur, leganya pas buka puasa, meningkatnya frekuensi istighfar, peningkatan semangat wudlu dan mandi, dan yang khas dari Ramadhan lainnya. Tapi, yang istimewa bukan hal-hal kecil tapi patut ditertawakan itu, Ramadhan ini saya mendapat, nggak sekdar siraman, tapi guyuran rohani. Ramadhan kali ini saya ikut, sebut saja, pesantren kilat. It is such an eye-opener. Ternyata Al-Quran itu benar-benar dahsyat, sodara-sodara. Jangan dikira Al-Quran isinya cuma tentang shalat, puasa, zakat, haji, tapi sebenarnya isinya ngalahin toserba, ensiklopedia, toko buku, hypermart, atau apapun itu yang pakai serba-serba. Subhanannlah...

Dari super-short-course selama Ramadhan kemarin, saya sadar betapa bodohnya saya. Ini nggak ngerti, itu nggak tahu, yang ini belum paham, yang itu nggak jelas. Saya jadi heran, apa yang saya lakukan selama 19 tahun hidup saya??? entahlah...

Terlepas dari betapa carut-marutnya pengetahuan saya tentang esensi dari hidup saya, saya merasa meskipun Ramadhan sudah usai, nastar sama kastengel juga udah abis, semangat yang saya dapatkan selama Ramadhan kemarin masih ada dalam diri saya. Thank You, Allah.

Saya merasa hidup ini sayaaaaaaanggg banget kalo diisi dengan keluhan-keluhan. Sayang banget buang-buang energi mahadahsyat Cuma buat memancarkan getaran negatif, menarik dan menangkap resonansi negatif. Apa sih maksudnya getaran negatif, resonansi negatif itu? Silakan baca buku “The Law of Attraction”.

Saya jadi tahu meditasi itu benar-benar secret-amazing-weapon buat seize the day. Saya kenal meditasi nggak baru-baru aja, udah lama sejak bapak-ibu saya ikut kegiatan-kegiatan yang intinya meditasi tapi dibungkus dengan aneka nama, tapi saya baru menar-benar mencoba diving di lautan bernama maditasi baru-baru aja. Dan meskipun saya baru berenang-renang di permukaan, belum bener-bener liat koral-koral, anemon, karang, maupun isi dasar lautnya, saya merasa it’s great, sodara-sodara.

Dan satu hal yang paling erat dengan Lebaran yang adalah berkaitan dengan angpao. Beberapa teman saya bilang Lebaran adalah saatnya panen duit. Saya pun heran jadinya. Seumur-umur jumlah nominal angpao yang saya dapatkan paling banyak adalah Rp 350.000. bukan karena keluarga dan kerabat saya sombong atau pelit, tapi karena seberapa pun tajirnya orang yang kasih angpao, saya selalu merasa risih kalo dikasih angpao gitu. Rasanya ngeganjel gimana gitu. Nggak enak banget. Alhasil, setiap Lebaran saya cenderung menghindar saat ada yang bagi-bagi angpao. Dan kali ini saya dapat Rp 45.000 dari mbah uti saya dan sodara yang saya kurang tau bagaimana saya harus menyebutnya. Jumlah yang fantastis bukan?

Rasa-rasanya Ramadhan kali ini benar-benar sebuah long-me-time buat saya. Meskipun radang tenggorokan tidak mau absen, tapi Ramadhan me-recharge semangat saya...

Senin, 06 September 2010

Pelajaran dari Sholat

Permisi...
Bukan maksud saya sok tahu, sok pinter, sok-sok apa aja terserah. Bukan maksud juga menggurui. Cuma pengen berbagi isi otak. Jadi, permisi ya....

Jumlah raka'at sholat : jujur
Jumlah raka'at dalam shalat ngajarin kita untuk berbuat jujur. Subuh selalu 2 raka'at, Dzuhur selalu 4 raka'at, Ashar selalu 4 raka'at, Maghrib selalu 3 raka'at, Isya selalu 4 raka'at. Mau sholat sendiri, mau jama'ah, mau diliatin orang banyak, mau sholat di tengah hutan rimba, mau sholat di masjid, mau sholat di tengah jalan tol, di mana pun, kapan pun, kita pasti melaksanakan sholat sesuai jumlah raka'atnya, nggak mungkin nambah atau ngurangin. Ambil contoh sholat Dzuhur. Dzuhur 4 raka'at, mau sholat jama'ah maupun sendirian tetap 4 raka'at.
Apa mungkin karena sholat di kamar, sendirian, nggak ada orang lain yang ngeliat, kita kurangin raka'atnya jadi 2 aja?
Nggak mungkin kan? Dalam situasi apa pun pasti Dzuhur tetap 4 raka'at kan? Itu membuktikan kalo sholat melatih kita untuk selalu berbuat jujur.

Pelaksanaan sholat : tanggung jawab
Kan ya nggak mungkin karena capek abis cabutin rumput di lapangan trus pas waktunya Dzuhur "Dek, tolong dong gantiin aku Dzuhur. 1 raka'at 5ribu deh".
Secapek apa pun, sesibuk apa pun kita tetap sholat sendiri, nggak bisa diwakilin. Tanggung jawab kita ya kita yang ngerjain.

Berdoa sholat : visioner
abis sholat pasti kita berdoa, biar pun cuma seucrit tetep aja kita berdoa. Apa yang di sampaikan dalam doa sudah pasti bermacam macam, tapi satu hal yang ( insyaallah ) sudah pasti adalah kita selalu berdoa untuk kebaikan kehidupan kita yang akan datang. Itu mengajarkan kita untuk selalu visioner, berpandangan jauh ke depan. Selalu mempersiapkan diri untuk apa pun yang akan terjadi di masa yang akan datang, selalu mempertimbangkan akibat di masa yang akan datang atas setiap pilihan sehingga tidak gegabah dalam membuat pilihan, selalu berhati hati dalam setiap perkataan dan tindakan.

Waktu sholat : disiplin
Mengerjakan sholat sudah ditentukan waktunya.
Nggak mungkin kan Subuh jam 10.00 WIB atau Ashar jam 7 malem?

Jama'ah sholat : kerja sama
Sholat berjamaah mengajarkan kita untuk memupuk kebersamaan, bekerja bersama demi mencapai satu tujuan.

Shaf sholat : adil
Nggak ada aturan shaf pertama untuk presiden, ke-2 untuk menteri, ke-3 untuk Pak Lurah, ke-4 untuk Pak RT, dst.
Siapa pun berhak untuk ada di shaf pertama, ke-2, ke-3, maupun ke-berapa pun, nggak peduli apa status sosialnya. Siapa yang datang duluan ya di shaf depan, yang belakangan mengikuti.
Nggak ada ceritanya pemulung shalat di shaf depan tapi karena kemudian presiden datang si pemulung harus kebelakang dan ngasih tempatnya buat si presiden. Buat Allah status sosial nggak penting, nggak ngaruh, yang penting cuma 1, amal ibadahnya. Ini sangat bertolak belakang dengan apa yang kita temui di kehidupan di mana status sosial sangat berpengaruh dalam kita memperoleh keadilan dalam hal apa pun. Yang miskin yang harus kalah, yang harus nyingkir. Tapi itu nggak berlaku dalam shaf shalat.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Life Moves Pretty Fast

Life moves pretty fast. If you don't stop and look around once in a while, you could miss it
-Ferris Bueller
Makin ke sini rasanya waktu berputar makin cepat. Satu hari yang dari dulu sampai sekarang tetap 23 jam 56 menit yang dibulatkan jadi 24 jam, sekarang berasa lebih cepet, berasa cuma 12 jam aja. Rasanya baru aja berangkat tidur, tau tau udah pagi, waktunya bangun.

Rasanya baru kemarin lahir, ngerangkak, belajar jalan, eh tau tau sekarang udah bisa lari, lompat kodok, rol depan rol belakang.

Rasanya baru kemarin ngerasain euforia masuk sekolah pertama kali pake seragam hijau krem, trus lanjut pake seragam putih merah, lanjut ke seragam putih biru, tau tau udah pake seragam putih abu abu, dan sekarang udah nggak pake seragam lagi.

Rasanya baru kemarin dapet kartu identitas murid TK deket masjid, trus dapat kartu ketertiban SD deket pertigaan, lalu dapat kartu siswa SMP deket makam, tau tau udah dapet kartu siswa SMA deket MI, sekarang tau tau SIM, KTP, kartu mahasiswa udah ada di dompet.

Rasanya baru kemarin dianter ke TK, lanjut naik sepeda sendiri ke SD, trus kadang di anter, kadang naik sepeda sendiri ke SMP, tau tau udah naik motor sendiri atau nebeng temen ke SMA, sekarang udah harus naik kereta ke kampus meskipun bukan kampus yang diinginkan.

Rasanya baru kemarin bangun tidur jam 3 buat sahur, tau tau sekarang udah hari ke-11 puasa.

Jagad raya emang makin tua kali ya?

Jadi rasanya jarum jam makin cepet aja muternya, Bumi makin cepet rotasi dan revolusinya.

Emang bener kata Albus Dumbledore
Mysterious thing, time. Powerful, and when meddled with, dangerous.

Nggak berasa detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun lewat gitu aja.

Kenapa?

Apa karena terlalu sibuk berlari jadi tidak memperhatikan sekeliling?

Apa karena terlalu sibuk berlari jadi lalai untuk berhenti sejenak di titik titik pemberhentian?

Waktu makin cepet lewatnya, umur makin cepet nambahnya, kesempatan hidup makin cepet berkurangnya.

Padahal apa aja yang udah dilakuin di sekian ribu hari itu? Apa sekian juta detik itu sudah diisi dengan hal hal yang bermanfaat?

Selasa, 13 Juli 2010

The Football Things

The time for FIFA Worldcup 2010 is over and the time for FIFA Worldcup 2014 has begun.

Dari sekian banyak negara di dunia ini, negara yang saya suka ( selain tanah air saya, Indonesia ) adalah Belanda. Dulu saya nggak tau kenapa saya suka, saya suka ya suka aja. Tapi sekarang kalo ditanya kenapa saya suka sama negaranya kompeni itu saya tau alasannya, Leiden. Sebuah kota yang saya tau punya universitas tertua di Negeri Oranye itu yang cerita dibalik berdirinya ngasih pelajaran bahwa kebutuhan akan ilmu mengalahkan egoisme orang sekota. Leiden juga salah satu kota di Belanda yang punya hubungan paling baik dengan indonesia. Di Belanda juga banyak ahli tata kota, saya suka. Belanda ada di nomor satu daftar negara yang bakal saya kunjungi kalo suatu saat nanti saya dapat kesempatan jalan jalan ke luar negeri. Ya, suatu saat nanti. .

Tapi kalo urusannya tentang FIFA Worldcup, saya dukung Jerman. Saya nggak ngerti tentang sepak bola. Nggak ngerti tim negara mana yang oke, nggak ngerti siapa pemain yang jago, nggak ngerti yang mana pelatih yang canggih, bahkan siapa pemain yang ganteng aja saya nggak ngerti.

Kata orang Cristiano Ronaldo itu cakep, tapi cakep dari mana?? Biasa aja deh menurut saya. Menurut saya semua kaum adam itu cakep, cakep dengan kadar masing masing. Yang bisa dikaterogikan cakep yang bener bener cakep secra fisik itu menurut saya yang enak dilihat. Enak/ tidaknya seseorang untuk dilihat itu relatif, tergantung pendapat masing masing. Urusan selera itu lokal banget. Jadi ya itu semua kembali ke masing masing. Oke Cristiano Ronaldo, Klose, Iker Cassilas, Lionel Messi, dsb emang cakep dengan cara mereka sendiri dan menurut banyak kaum hawa mereka itu cakep yang bisa menghilangkan dahaga mereka, tapi menurut saya mereka itu ya biasa aja, bukan cakep yang kategori saya. Kok malah ngomongin cakep ya? Oke, skip this.

Yang saya tau tentang sepak bola itu cuma jumlah pemain tiap tim 11 orang, ada keeper, pemain belakang, gelandang, striker. Saya nggak tau aturan mainnya selain kartu kuning dan merah. Tapi saya sepenuh hati dukung Jerman. Menurut saya tim Jerman mainnya oke, nggak tau deh alasannya apaan. Pokoknya saya dukung mereka aja. Tapi ternyata Jerman nggak masuk final, ya wislah makin buta aja saya tentang Piala Dunia kali ini. Yang ketemu di final adalah Belanda dan Spanyol dan juaranya adalah Spanyol. Agak kaget juga sih saya. Menurut saya ( lagi lagi ) Jerman sama Argentina ( yang seragamnya biru muda, bener kagak? ) mainnya lebih bagus deh. Tapi nyatanya mereka bukan juaranya dan musti puas dengan tidak masuk jadi finalis dan pulang duluan ya terima ajalah. No more “menurut saya tim blablabla”, no more sok tau tentang sepak bola.

Tapi saya rada jijay tralala deh kalo nonton sepak bola. Mereka tuh ya, para pemain tuh pada suka ngludah. Sering malah. Bentar bentar cuih. Tuh lapangan macam tempat ngumpulnya sample saliva macam macam orang dari macam macam negara. Apa sih maksudnya mereka ngludah gitu?

Ada satu hal pengiring Piala Dunia yang menurut saya ngeganggu. Ramalan ramalan, prediksi prediksi pemenang. Bikin hawa penasaran, excited tapi takut yang gimana gitu jadi berkurang. Nggak peduli deh ya yang ngeramal itu mau gurita, paus, lumba lumba, ato cebong sekalipun, menurut saya itu ngeganggu ( ato malah ngebantu buat yang pada taruhan?? ). Macam ada yang ngeduluin gitu. Apa ya bahasanya? Spoiler? Hmm…. Ya, spoiler. Kesel kesel tuh gurita gw bikin takoyaki deh.

Tapi apa pun itu ke-sok-tahuan-saya, itu cuma pendapat pribadi yang nggak ngaruh sama sekali buat jalannya musim penggila bola kali ini. Bahkan didengar orang pun tidak. Mungkin kalo ada penggila bola yang denger, mereka bakal komentar “nih orang ngapain sih? Nggak banget deh. Ngerti juga kagak, ngapain belagak komentar komentar gitu. Apa pula gunanya ?”.

Senin, 01 Maret 2010

facebook-cuma komentar

as we know, sekarang lagi musim facebook, twitter, hi5, dsb. Dari anak kecil yang masih ingusan sampai opa-oma yang kakinya udah 3 pada punya account facebook. Tapi saya nggak punya account facebook, yang mungkin termasuk kaum minoritas. Saya bukan kaum konservatif yang menolak kemajuan dan kecanggihan teknologi jaman sekarang, saya pilih nggak punya account facebook atau twitter atau yang lainnya karena saya mau bener bener konsentrasi sama belajar, sama sekolah dulu. Takutnya, kalo saya punya account facebook atau yang lainnya, saya jadi sibuk chatting sana chatting sini, lupa belajar, sering put off tugas tugas yang musti dikerjain, dsb. Saya juga nggak ada prasangka jelek jelek tentang situs situs jejaring sosial semacam itu. Jujur, saya appreciate banget sama yang bikin situs situs semacam itu. Betapa banyak manfaat yang diberikan. Betapa hebatnya kecanggihan teknologi. Bisa ketemu temen temen yang udah berabad abad nggak ada komunikasi cuma modal pulsa 500 rupiah, bisa promosiin barang barang jualannya, bisa cari temen temen baru dari berbagai belahan dunia, dsb. Khusus yang jualan lewat facebook, saya udah bener bener buktiin. Tante dan sepupu saya sukses jualan tas, jilbab, batik, hardware komputer lewat facebook.

Tapi keabsenan saya dari situs situs jejaring sosial itu ternyata rada mengusik bapak ibu saya. "Mbo ya fesbukan ngono ta, nda", "mbo ya ngoceh ngoceh di twitter ngono ta, nda", kata bapak ibu saya berkali kali. Tapi karena saya, kalo kata ibu saya, orang yang konstan, jadi sekali nggak mau ya nggak mau.

Kemarin di sekolah
saya duduk, di kanan saya ada si A, 2 bangku di kiri saya ada si B.
B : winda!
S : apa?
B : tolong ndang omongke si A, wall-ku ndang di bales.
S : *rada bengong, mbo ya ngomong langsung napa?* ya.
S : A, wall e B ndang di bales.
belum sampai saya negok, eh tau tau si B udah teriak aja " hoi, ndang di bales".
S: tuing2

Hari ini, di rumah
Bapaksaya : aku mau ngobrol ngobrol karo cah kantor tentang facebook.
Ibusaya : ya, trus?
Saya : *cuma dengerin*
Bapaksaya cerita :

temenbapaksaya1 : pak, winda gadhah fesbuk boten?
bapaksaya : ora i, ngapa ta?
temenbapaksaya1 : ajeng kula add ngaten lho.
temenbapaksaya2 : wah, nggih sae no, pak, dek winda boten fesbukan.
bapaksaya : lha ngapa ta?
temenbapaksaya2 : lha nggih ngaten niku, boten kegoda macem macem.
bapaksaya : kegoda apa ora iku lak ya tergantung pribadi masing masing. selama masih bisa jaga diri, membentengi diri dari hal hal negatif lak yo aman. wong ra fesbukan tapi kena goda macem macem we ya akeh.
temenbapaksaya3 : tanggaku kuwi ana sik kena imbas e fesbuk. cah wedok, kuliah semester akhir, ilang. bapak ibune bingung goleki, pas wis ketemu ternyata lunga karo kanca fesbuk e. lunga kuwi gawa duite ibune 90 juta, trus mbuh dinggo apa saiki wis entek. gek pas wis ketemu kuwi diajak mulih nggak gelem. pokoke yen nggak karo cah lanang konco fesbuk e kwi nggak gelem mulih.
temenbapaksaya1 : lha trus pripun, pak?
temenbapaksaya3 : ya mbuh kuwi, tekansaiki ya urung cetho.
bapaksaya : iku tanggamu ngendi?
temenbapaksaya3 : tangga sebelah omaku pas, mas. lak yo cah mumet ta?
bapaksaya : ya iku mau, kembali ke pribadi masing masing.

ibusaya : untung, nda, kowe nggak fesbukan.
saya : ( lah... kemarin nggak fesbukan disuruh suruh, sekarang diuntung untungin. hadoh2 moomy)

Sekarang makin banyak aja yang kena efek negatif facebook. Di mana mana ada aja yang kena. Bahkan di kota kecil nyempil macam Karanganyar Tenteram gini juga ada. Tapi kalo sekarang facebook dianggap sbagai sesuatu yang negatif gara gara berbagai kasus itu, menurut saya nggak tepat. Dianggap negatif itu karena negatifnya lebih banyak diekspos daripada positifnya. Jadi yang nongol ya yang jelek jeleknya aja. Kalo aja positifnya juga diekspos dengan frekuensi yang sama, pasti nggak ada yang demo demo minta pemerintah blok facebook-lah, minta pemerintah bikin kebijakan tentang situs situs jejaring sosial-lah, dsb-lah.

Tapi, semua itu emang kembali ke pribadi masing masing. Klise memang, tapi ya memang begitu adanya. . .

Senin, 18 Januari 2010

a cocoon said

" I am trying to forget something "

" I am trying to remember something "

" I am trying to break something "

" I am trying to look for something "

" One thing for sure, I am trying to curse him badly ( astaghfirullahaladzim ) "

Kamis, 07 Januari 2010

in a quandary

windaPM:

cari tempat kuliah

ampun, susahnya!

bingung


mau ke mana?

ipa? ips? ipc?

otak seret

itung itungan mampet

hapalan buntet

bete

benci pete

aaaarrrrggghhh!!!!!!!

Rabu, 23 Desember 2009

tuyul itu...


Namanya Ridho Aji Pamungkas. Keliatan kan kalo dia anak bungsu? Dia sepupu saya, anak dari bulik saya dari bapak. Biasa dipanggil dek Ridho. Saya biasa manggil dia dengan sebutan Tuyul. Soalnya dia kecil mungil. Dianya juga nyahut aja kalo saya pangil Tuyul. Dia emang anak bulik saya, bukan anak yang lahir dari rahim ibu saya, tapi dia eket sama saya, bapak, dan ibu saya. Ke bapak ibu saya sama deketnya dengan ke bapak ibunya.

ini beberapa hari setelah lahir. udah bisa senyum aja...

Anaknya kecil, mungil, usil, nggak bisa diem, ada ada aja. Kalo nanya panjang. Siapapun nggak bakal bisa boongin dia. “ini apa?”, “buat apa?”, “caranya gimana?”, “trus diapain?”, “kok bisa gitu gimana?”, dst. Itu Ridho kalo nanya.

keliatan kan betapa kecil mungilnya Tuyul saya? di baskom kecil gitu dia muat

Mainan favoritnya jepretan tikus. Aneh kan? Nggak lazim kan? Ya, memang. Ridho emang lain dari yang lain. Suatu waktu Ridho ikut ibunya ke pasar, di pasar dia liat ada yang jualan jepretan tikus, dia langsung minta dibeliin aja. Sampai rumah langsung aja dia minta lele ke ibunya, ditanya buat apa dia jawab “dipasang disini (di jepretan tikus) biar tikusnya datang”. Bulik saya who is ibunya Ridho ya melongo aja. Terus Ridho pangil panggil tikus tikusnya “kus, tikus, sini…”. Terjemahannya : hei, para tikus! Ke sini kalian, masuk ke parangkap tikus baruku, rasain jepretannya. Silakan heran, geleng geleng kepala, maupun bengong.

Dia suka main air. Kalo mandi lamaaaaa. Main main air dulu sampai menggigil, barulah dia mau pakai baju.

“Aku punya ayam jago, menthok, sama iwak,” itu hal yang paling dibanggakannya.

Dek Ridho paling risih kalo kulitnya gatel. “ini gaten, bitun gede”, sambil garuk garuk. Kalo udah kaya gitu pasti minta minyak kayu putih.

Apa aja yang pake mesin diesel dia nyebutnya ipang. Nggak tau kenapa. Biar udah dikasih tau nama yang sebenernya juga tetep aja nyebutnya ipang.

Kale nyebut kuburan, kolam gurame. Kaget kan? Kok bisa gitu, wind? Dulu, pas pergi ke mana gitu, saya lupa, kita lewat kuburan yang deket tempat pembibitan gurame. Bapak saya bilang “kono kwi kolam gurame nggo pembibitan” sambil nunjuk ke arah tempat pembibitan yang deket kuburan. Karena dek Ridho masih kecil, jadi ya dia nggak gitu ngeh. Dikiranya kolam gurame itu ya kuburan itu.

Biar baru 2,5 tahun, tapi dia udah doyan sambel. Oke nggak tuh? Bukannya dia maem ayam goreng pakai sambel gitu, tapi dia doyan aja kalo maem lauk atau sayurnya ada rasa pedesnya dikit gitu.

Dia anak yang bandel. Bukan bandel yang anak nakal gitu, tapi bandel yang “cowok”. Dia nggak gampang nangis. Kalo jatuh dan luka, dia nangis bentar, yang ngeliat belum selesai panik, dianya udah cengar cengir lagi, “nggak apa apa. Ini sih kecil”. Karena mainannya jepretan tikus, beberapa kali dia pernah ngerasaain sentuhan jepretan tikus. Orang gede aja bakal kesakitan kalo kena jepretan tikus, tapi Tuyul saya ini biasa aja. Nangis bentar, lukanya diobatin, udah deh, main lagi. Pernah sekali waktu tangannya kejepit pintu sampai kukunya rada biru, tapi dianya kaya nggak ngerasain sakitnya. Tetep asik main. Emang hebat Tuyul saya itu…

Masih banyak hal tentang Ridho, Tuyul saya, yang lain dari yang lain. Tapi, sekarang itu semua cuma tinggal kenangan di kotak memory kami yang masih hidup. Ya, tadi pagi, Tuyul saya kembali ke pemiliknya, Allah SWT. Dia pergi di usianya yang masih sangat muda. Baru 2,5 tahun dia melihat warna warni dunia, menghirup napas lewat hidungnya, merasakan udara memenuhi paru parunya, mendengar berbagai melodi melalui telinganya, mencecap manisnya gula dengan lidahnya, berceloteh dengan mulutnya. Tapi dia tetap bagian dari keluarga Soepawiro yang telah memberikan warna warni pada kami semua yang mengenalnya...

Sekitar dua minggu belakangan ini Tuyul saya memang rada beda dari biasanya. Rada cengeng yang nggak biasanya. Lebih minta diperhatikan. Kemarin, waktu ibu saya pergi sama Tuyul saya dan dek Awang (sepupu saya yang lain), di mobil dua anak balita itu debat terus. Rada nggak biasanya juga, biasanya dua balita itu akur banget. Ini salah satu bagian dialog dua balita yang diingat ibu saya.

Dek Awang : orang mati itu nggak bergerak.
Dek Ridho : bergerak!
Dek Awang : nggak!
Dek ridho : (ngerengek protes)


Bocah yang baru 2,5 tahun itu udah ngomongin mati. Biar Cuma celoteh tetep aja itu nggak biasanya. Kemarin pas mau berangkat juga dia sempet bilang “ayo tindak tindak. Ben aku seneng”. Pas udah mau pulang dia kaya nggak mau gitu, dia ngajakin pergi. Tapi karena ibu saya ditungguin sama urusan lain yang lebih mendesak minta diurus, jadilah nggak bisa nganterin pergi. Pas udah sampai di rumah, dianya cuma diem aja, ditawari es krim juga nggak peduli, diajak ngomong juga acuh, ngalamun sendiri.

dek Ridho sama dek Awang

Pagi tadi saya berangkat les. Pas udah selesai saya liat HP saya, ada beberapa panggilan dari bapak saya, dan SMS Slse jm brp? Cpt plng,hati2. . Sampai di gapura gang masuk rumah saya, saya udah kaget, deg degan, heran. Ada bendera merah tanda ada lelayu. Tapi dari rumah pertama sampai di depan rumah saya sepi sepi aja. Yoga, tetangga saya datengin saya, saya tanya “sopo sik meninggal?”, dianya Cuma senyum aja. Trus Awan ( adeknya Yoga) kasih tau saya kalo yang meninggal itu dek Ridho, Tuyul saya. Nangislah saya jadinya. Pening kepala saya.

Sekarang Tuyul saya udah tidur nyenyak, dijagain malaikat malaikat. Kata bapak “Ridho itu generasi tauhid yang disia siakan. Mungkin Allah merasa gitu. Mungkin Allah merasa anak tauhidNya tidak kita rawat dengan baik seperti apa yang diinginkanNya. Jadi Dia ambil anak istimewa kita itu, Dia rawat dan besarkan sendiri. Kita nggak boleh melawan takdirNya, kita harus menerima takdirNya dengan mengikhlaskannya”.

Selamat jalan Tuyulku sayang, dek Ridhoku sayang… Mbak winda udah nggak nangis lagi… :)

Sabtu, 05 Desember 2009

messy thing

I know that he isn't mine anymore.
I know that he is someonelse now.
But, what can I do?
I can't move on.
I'm stuck on him.
Everytime I have nothing to do, my mind is fulled by him.
I can't move one. Nightmares never go away from me, always greet me every night.
I cry all the time.
I scream everynight.
I can't have a normal life anymore.
Hatred fulled me inside. But I can't deny that I miss him so bad.
Remembering the times I had with him makes me more burden. Bury my self over the pains.
But I can't get him off my mind.
Now, I know how is the feeling of loving someone out of our hand, how is the feeling become the one for sorrow.
Is it a karma? I know I had ignored some people before, but I never did it this way, I never treat others as rude as he did to me.
There is a big hole in my heart and it is so bloody. So hurt. No one can cure this bloody scar.
Poor me. I'm so tortured by this feeling. I never imagine I would get this illness.
My head fulled by why, why, why, and so much more why. I want to get out from this fucking hole. But I can't. . . No matter how hard I try, I can't move on. I really stuck on him.
Do I want him back to me? Do I want to repeat my times with him? Do I have a space for him? Can I open my heart again?

My mom said that I am a zombie now. Emotionless. I wake up in the morning, take bath, have breakfast, go to school, study, etc, but tasteless. I do it just because of the habit. So plain.
I'm sorry, mom. I can't be your cheerful daughter anymore. I can't be your sweet daughter anymore. I'm sorry I can't get closer with anybody else, mom. I'm sorry I can't as strong as before. I'm sorry I have no passion at all anymore. I'm so sorry, mom. .

Dad, if you read these messy words, I hope you get the answer for all of your questions. I'm too coward to talk with you directly. .

I'm sorry mom, dad. I can't be your daughter as 1,5 years ago. .
I'm sorry I always avoid to have a time with both you, I can't have time with anybody, I'm sorry for every "I'm okay" I told both you, I lied to both you. I'm so sorry. .

I don't have any purposes to publis this messy thing, I only need a place to say those without make a sound.
Anybody could help me?

Minggu, 13 September 2009

Flightplan, Film Tentang Contoh Hebatnya para Ibu


Semalam saya nonton Flightplan untuk kesekian kalinya. Dan untuk yang kemarin akhirnya saya nonton sampai selesai. Uh! Bener-bener touching, exhilarting, pumps the adrenalin. Tapi satu hal yang paling ngena dipikiran saya dan bikin saya bener-bener sadar dan paham tentang suatu hal. Suatu hal itu adalah kasih ibu bener-bener sepanjang jalan lintas pulau, lintas benua, lintas samudra, ngider nggak ada putusnya di permukaan bumi yang bulat ini.

Film itu critanya tentang ibu yang naik pesawat sama putri kecilnya. Tau-tau pas di dalem pesawat putrinya itu ilang. Dan ternyata putrinya itu diculik sama pembajak pesawat itu dan ditaruh di ruang mesin dalam keadaan tidur lelap dibawah pengaruh obat bius. Tujuan penculikannya untuk melancarkan aksi pembajakan tanpa menarik perhatian orang lain dan membuka kedok si pembajak sehingga nggak ada satu orang pun di pesawat itu, kecuali si ibu, yang nyadar kalau pesawat itu lagi dibajak secara rapi dan terselubung. Si ibu yang nyadar putrinya ilang jelas langsung panik. Tapi nggak ada orang di pesawat itu percaya kalau putri ibu itu ilang kecuali 2 bocah yang juga penumpang pesawat itu. Semua penumpang+awak pesawat yakin kalau putri ibu itu emang dari awal nggak naik pesawat, apalagi ditambah nggak adanya nama putri ibu itu di daftar nama penumpang. Si ibu tetep yakin putrinya diculik dan ditaruh disalah satu ruang di pesawat itu. Si ibu yang ternyata seorang teknisi di sebuah maskapai penerbangan udah pasti tau seluk beluk pesawat akhirnya nyari putrinya di seluruh bagian pesawat. Saya nggak perlu ceritain semuanya, tapi intinya pada akhir cerita si ibu itu bisa nemuin putrinya yang disembunyiin di ruang mesin dan ngebuktiin kalau dia nggak gila kaya anggapan orang orang di dalem pesawat. Untuk cerita lengkapnya silakan saksikan Flightplan. Intinya seorang ibu itu berusaha keras nemuin putrinya, nggak peduli apa orang bilang tentang dia, nggak peduli apapun rintangannya.

Semua itu kasih liat kalau seorang ibu itu punya intuisi yang bener bener kuat tentang anak-anaknya dan selalu berusaha melakukan yang terbaik buat anak anaknya. Itu sedikit dari sekian banyak bukti kasih ibu yang bener bener tulus dan tiada akhir.

Jumat, 26 Juni 2009

Jilbab, yes or no?

Seorang muslim yang sudah akhil baligh diwajibkan menutup auratnya. Itu identik dengan memakai jilbab bagi kaum hawa. Lalu yang bagaimanakah yang disebut menutup aurat? Haruskah memakai baju yang berlapis lapis hingga sempurna menutupi tiap inci kulit dan sempurna menyamarkan tiap lekuk tubuh? Memakai jubah yang longgar beserta jilbab yang selebar seprai lengkap dengan cadarnya? Ataukah cukup memakai baju yang sopan dan rapi?

Banyak pendapat mengenai ketentuan menutup aurat. Banyak pula kebingungan (khususnya bagi remaja putri dan wanita) yang ditimbulkannya. Saya sendiri merasa bingung dalam hal ini.

Setahu saya aurat itu adalah bagian tubuh yang dilarang untuk diperlihatkan bagi orang lain karena bisa menimbulkan nafsu/ syahwat. Nha, bukankah bagian tubuh (terutama perempuan) yang bisa menimbulkan nafsu bagi yang melihatnya itu relatif, tergantung kebersihan pikiran si penglihat? Apakah lengan bawah, betis, rambut (perempuan) itu juga aurat?

Apakah dengan berjilbab dan memakai baju yang super longgar sudah menjamin tidak akan timbul nafsu bagi orang yang melihat? Bukankah dengan memakai pakaian yang berlebihan demikian justru menimbulkan rasa penasaran sebenarnya seperti apa sih wujud aslinya dan itu justru akan menyebabkan para lawan jenis yang melihat berfantasi liar? Selalu ada terlalu banyak pertanyaan mengenai bagaimana menutup aurat yang benar.

Saya sendiri terkadang merasa bingung sopan tidakkah pakaian yang saya pakai. Dan ketika saya memutuskan untuk akan mulai berjilbab saya mulai mengamati bagaimana cara berpakaian orang-orang yang berjilbab. Beraneka ragam, bermacam-macam. Ada yang memakai jilbab tapi memakai legging, memakai jilbab tapi pakaiannya tipis hingga (maaf) tali bra-nya terlihat, ada pula yang memakai jilbab tapi blus yang dipakainya super ketat, dan bermacam-macam lagi. Apakah mereka yang seperti itu sudah bisa disebut menutup aurat? (bukkannya justru ”mengundang”?) Lalu bagaimanakah cara berpakaian yang baik?

Sudah sejak akan masuk SMA, saya mempunyai niat untuk mulai berjilbab, tapi selalu ragu-ragu. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini saya merasa yakin untuk memakai jilbab. Saya pun bertanya pada beberapa orang terdekat saya, ”Bagaimana jika saya berjilbab?”. Bermacam-macam jawaban yang merka berikan.

Ibu : ”Alhamdulillah.” (singkat tapi dalam)
Bapak : ”Bagus! Memang kalau sudah akhil baligh harus menutup aurat. Nanti bapak yang belikan seragam baru.” (langsung jadi sponsor =D)
Bulik (adeknya bapak) : ”Ya bagus nuw. Cantik.” (hahaha)
Mbah uti : ” Ya wis kudu ngono. Ibumu, budhemu, bulik & tantemu (sama aja yak?) kan ya jilbaban. Mbah uti sing wis tuwa ya jilbaban ngene.” (inggih, mbah uti)

Dari jawaban-jawaban mereka, setidaknya saya tahu mereka mendukung saya. Sekarang tinggal saya yang harus menyiapkan diri saya. Bagaimanakah cara berpakaian saya untuk menutup aurat dengan lebih sempurna? Tidak hanya memakai jilbab di kepala, tapi juga memakai jilbab di hati. Itu PR saya. .

Rabu, 24 Juni 2009

Liburan

Liburan telah tiba dan saya tidak ke mana-mana. .

Liburan telah tiba dan saya biasa-biasa saja. .

Kalau hari sekolah pengennya libur mulu,tp sekarang libur 3 minggu saya malah nggak tau mau ngapain. Mau pergi,pergi ke mana? Di rumah saja, kok y bosen juga. . Ah, saya bingung mau ngapain. .

Selasa, 16 Juni 2009

Kepercayaan



Sunguh mahal harga sebuah kepercayaan. Kalau ada perumpamaan untuk kepercayaan, mungkin “ karena nila setitik rusak susu sebelanga”. Cuma karena salah kata, hilang semua kepercayaan.

Dilihat dari sisi materi, semakin menunjukkan kalau kepercayaan itu benar-benar mahal. Saat pemilu contohnya. Banyak parpol, caleg, capres, dan cawapres menghamburkan ratusan juta, bahkan milyaran rupiah untuk merebut simpati rakyat dengan tujuan untuk mendapatkan kepercayaan rakyat.

Ketidaksinkronan antara pikiran dan hati dengan tindakan/ aktivitas juga bisa menhancurkan kepercayaan. Contohnya, yang ada di pikiran dan hati adalah si A, tapi SMS tujuannya ke B, jadilah salah kirim ke A. akhirnya si A salah paham dan marahlah dia. Hancur, runyam, ribet semuanya!

Cuma gara-gara pikiran dan tindakan yang tidak sinkron, Cuma gara-gara orang ceroboh bin bodoh yang nggak teliti, hancur semuanya. .

Seteleh itu si bodoh bin ceroboh itu harus berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan kepercayaan lagi. Susahnya minta ampun! Itu menunjukkan betapa mahalnya kepercayaan itu. .

Minggu, 21 Desember 2008

Bensin, Kendaraan, Pacar, Teman

. . it's better to have friend who loves us more than he loves his fuel and vehicle than have a boyfriend who loves his fuel and vehicle more than he love us . .

Kenapa? Why?

( Dari sudut pandang cewe ) Ada banyak alasan untuk menjawab kenapa, tapi yang mengena adalah rasa sakit, sebel, jengkel, dsb yang akan kita rasakan. Sebagai cewe, pasti merasa ingin dilindungi. Kalau kita punya pacar yang lebih sayang pada bensin dan kendaraannya, maka kita harus mandiri, ke mana-mana sendiri. Mau minta anter temen ya nggak mungkin gitu, apalagi kalo temen kita itu cowo, kita pasti khawatir, takut, was-was kalau-kalau itu bisa bikin pacar kita marah. Tapi bisa apa selain berusaha ke mana-mana sendiri? Kan pacar kita lebih sayang ke bensin dan kendaraan yang dia punya, jadi untuk antar/ jemput kita nearly impossible. Yang ada di otaknya "Ntar bensin gue boros lagi" atau "Ntar motor gue kotor lagi" atau kalimat-kalimat lain yang bermakna serupa. Pacar kita itu akan lebih berusaha melindungi bensinnya dari keborosan dankendaraannya dari lecet, kotor, dsb daripada meluangkan waktu untuk sekedar antar/ jemput kita. Kemungkinan lain adalah sang pacar yang bisa disebut pelit itu kerjanya cuma ngoceh-ngoceh "Ntar aku ke rumah kamu ya", "Ntar takanter deh", "Ntar sama aku aja", dsb yang prakteknya nol guedeeeee banget alias boong banget, bokis abis! gara-gara hal itu bisa bikin boros bensin dan kotor kendaraan. Terus yang ada kita sebel sendiri, jengkel, ngrasa diboongi, sementara sang pacar sama sekali nggak merasa bersalah dan mungkin akan mengulangi itu lagi. Bodoh ya kita sebagai cewe gampang kemakan omongan pacar-pacar itu?
Lain cerita kalo kita nggak punya pacar tapi punya temen yang lebih sayang ke kita dari pada ke bensin dan kendaraannya. Teman kita itu nggak akan ragu-ragu dan dengan suka cita serela-relanya mengantar/ jemput kita ke manapun asal itu bukan tempat yang macam-macam atau aneh-aneh. Yakin 100% atau 1000% atau berapapun itu, kita pasti akan merasa lebih nyaman, lebih merasa diperhatikan dan dihargai, lebih merasa dilindungi ke teman kita itu daripada punya pacar yang lebih sayang ke bensin dan kendaraannya daripada ke kita.
Dari teman kita bisa dapat semuanya. Perhatian, rasa hormat, rasa diharagai,
rasa dilindungi, dsb. Karena teman akan cenderung ingin membuat orang lain yang berstatus temannya itu merasa nyaman di dekatnya.
Ada pertanyaan lain, kalau pacar lebih sering antar/ jemput cewe lain dari pada kita, apa yang kita rasain??
Bohong banget kalo bisa-bisanya kita jawab "Ah, gagpapa kog". Sebagai cewe normal, dapat dipastikan kita sebel bukan main, nggak terima, nggak suka, jengkel, marah, dsb. Tapi kita bisa apa? Lha wong sang pacar rela-rela aja, seneng-seneng aja di minta antar/ jemput si cewe lain itu. Padahal, buat antar/ jemput kita, it's nearly impossible. Apalagi kalau pacar nggak jujur ke kita kalau dia antar/ jemput si cewe lain tanpa sepengetahuan kita. Wah, bikin tambah sebel, nggak terima, nggak suka, jengkel, marah, dsb. Bisa betah tuh kita marahnya.
Kalau dipikir pake logika, buat apa punya pacar yang kaya gitu?? Cuma bikin sakit. Better diputus aja. Tapi ya tenang-tenang aja, kan status masih pacar, belum kawin, masih bisa putus. Hehe =P

Rabu, 19 November 2008


"You've Got A Friend"

When you're down and troubled
And you need a helping hand
And nothing, nothing is going right
Close your eyes and think of me
And soon I will be there
To brighten up even your darkest night

You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
And I'll be there, yeah, yeah, yeah.
You've got a friend

If the sky above you
Should turn dark and full of clouds
And that old north wind should begin to blow
Keep your head together
And call my name out loud, yeah
Soon I'll be knocking upon your door

You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running, oh yes I will
To see you again
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
And I'll be there, yeah, yeah, yeah.

Ain't it good to know that you've got a friend
When people can be so cold
They'll hurt you, and desert you
And take your soul if you let them
Oh yeah, but don't you let them

You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
And I'll be there, yes I will.

You've got a friend
You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again (oh baby don't you know)
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
Lord, I'll be there yes I will.
You've got a friend

Oh, you've got a friend.
Ain't it good to know you've got a friend.
Ain't it good to know you've got a friend.
You've got a friend.

Kepompong


Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Merubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na…na…na….na….na…na….

Semua yang berlalu biarkanlah berlalu
Seperti hangatnya mentari
Siang berganti malam sembunyikan sinarnya
Hingga dia bersinar lagi

Dulu kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Merubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Keeeepompoooongggg

Nananana,,,,,nananana,,,,,nananana,,,,,,

huuuuffft. . .
kelihatannya sederhana,tapi buat aku itu penuh makna. .

kalo lagi kangen temen, itu
soundtrack yang cocok. .

kalo lagi
break sama pacar atau temen, itu soudtrack yang cocok. .

kalo lagi berantem dan pengen akur lagi, itu
soudtrack yang cocok. .

kalo lagi suka orang lain tapi lagi jauh -entah jauh secara lokasi maupun batin-, itu
soundtrack yang cocok. .

intinya, lagu ini penyh makna. .
cocok untuk situasi apapun. .
itu menurutku. . . .