Kamis, 14 Juli 2011

Kuliah untuk IP atau Ilmu?

Pertanyaan yang mendominasi percakapan, terutama antar mahasiswa, pasca masa ujian adalah tentang nilai dan IP.

"Gimana nilainya? Udah keluar semua?"

Keluar dari mane? Dari gua??

"Hei, gimana IPnya?"

IP saya sehat wal'afiat. Dia dikasih makanan bergizi sama ibunya.

"IPnya naik atau turun nih?"

IP saya nggak punya tangga.

"Yang dapet A berapa makul?"

"Makul ini dapet apa?"

Jarangggggg banget yang jawab "Dapet ilmu", pada jawab "dapet A/ B/ C/ dst".

blablabla

Hampir semuanya yang dibahas adalah IP-nilai-IP-nilai-IP-nilai. Jaraaaannnggg banget ada yang tanya,

"Gimana semester kemarin? Yang belum paham benar makul apa?"

"Makul ini udah paham semua? Yang paling favorit chapter apa?"

"Udah dapat makul ini kan? Garis besarnya tentang apa?"

Bukannya sok-sokan atau apa, tapi menurut saya, inti dari kuliah dan belajar bukan besar-kecil angka nilai atau IP, tapi lebih ke banyak-sedikitnya ilmu yang diperoleh. Buat apa dapat nilai bagus tapi nggak benar-benar menguasai materi?

Nilai dan IP memang penting, tapi itu bukan tujuan utama dari belajar dan kuliah. Kalo belajar cuma diukur dari nilai yang diperoleh, lulus kuliah selesai dong belajarnya? Kan abis itu nggak ada yang kasih A, B, atau malah D maupun 66, 90, 100, maupun 0. Padahal manusia hidup nggak bisa gitu. Dalam kitab agama saya, disebutin juga kalo manusia diwajibkan belajar sepanjang hidupnya, istilah kampung saya lifespan development gitu.

Kan kata orang-orang hebat kira-kira begini, "your GPA leads you to job interview, but your leadership and knowledge lead you to prosperous life."

Intinya, IP bagus cuma bawa kita sampai mendapat pekerjaan, tapi ilmu yang kita punyalah yang akan memberikan kehidupan yang sejahtera.

Nggak usah terlalu pusing masalah nilai dan IP, yang perlu dipusingkan adalah seberapa penuh kantong pengetahuan kita. Dapat IP sempurna nggak langsung bikin kita jadi manusia terhebat di semesta kok, sama aja sama dapat IP biasa-biasa aja. Tapi, menguasai berbagai pengetahuanlah yang bikin kita jadi manusia bermanfaat. Karena sebagaimana kata Zafran dalam novel 5 Cm, "sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberikan manfaat sama orang lain".

Tanpa mengesampingkan nilai dan IP, kuliah yang panting dapat ilmunya, IP dan nilai bagus itu adalah bonus.

Senin, 11 Juli 2011

Nggak Pulang-EFH-Dosen Semester 2-IPK

Sebenernya udah ngantuk stadium akhir, tapi dari tadi nggak bisa tidur. Dari pada nggak ada kerjaan, nyampah bolehlah.

It’s been a tiring week, I thought. Weekend nggak bisa pulang karena ada kepanitiaan. Kost sepi karena 3 biji The Nina’s pulang kampung dan sebiji yang lain bilangnya ada KP (Kuliah Praktik) di Karimun Jawa tapi saya yakin ini lebih ke acara refreshing setelah satu semester penuh dia dan teman-temannya benar-benar terhimpit oleh si perkasa Gajah Mada, dan bapak-ibu kost beserta dua prajuritnya jalan-jalan abisin liburan di Kudus. Akhirnya resmilah saya jadi single fighter penunggu kost di weekend kemarin setelah entah ke mana lenyapnya, si mbak-mbak yang bantu-bantu di kost juga menghilang begitu saja.

Setelah dua minggu berkutat dengan EFH, akhirnya Sabtu kemarin EFH kelar juga. Rasanya legaaaa banget itu acara buat anak-anak unyu-unyu beres juga dan alhamdulillah sukses. Apa itu EFH dan bagaimana jalan acaranya, kapan-kapan saya tulis deh, lagi nggak mood. Sekarang saya kasih fotonya dikit aja.


Yang jelas karena EFH saya jadi punya kenalan tukang sate, ibu-ibu muda dengan anak-anaknya yang unyu, kyut, dan imyut, ibu-ibu pemilik katering dan rumah makan, ibu-ibu tempat pesen snack, mas-mas tukang air mineral, dan tukang parkir Toko Merah, toko-toko snack di Jalan Magelang. Gaul banget kan saya?

Seminggu ini saya tidur nggak nyenyak. Apa pasal? Anjing piaraan tetangga sebelah brisik mulu kalo malem. Ini aja dia brisik juga. Tapi nggak apalah, seenggaknya saya ada temen melek.

Dan, besok adalah hari jumpa dengan dosen pembimping akademik dalam rangka nyusun KRS untuk semester 3. Tapi, tapi, tapi, nilai saya belum semuanya keluar. Rasa-rasanya semester 2 ini saya nggak maksimal. Lebih nggak maksimal dari semester 1 kemarin. Nggak berasa banget tau-tau udah ujian dan sekarang setelah libur saya terkorupsi oleh suatu hal, udah waktunya KRS baru. Sekitar dua setengah minggu sebelum ujian kemarin saya sakit, akhirnya saya bolos 1 minggu, sekalinya masuk udah hari terakhir kuliah, terus libur minggu tenang. Yang ada saya kaget, nggak siap. Terbengong-bengonglah saya. Hasilnya sekarang saya nggak heran kalo IP saya turun. Meskipun alhamdullillah turunnya nggak banyak, tapi yang tetap aja angkanya nggak seindah IP perdana saya begitu molek ayu cantik manis memukau *setidaknya* hati saya.

Dan satu hal yang ingin saya tuliskan di sini yang saya lewatkan di akhir semester pertama saya, yaitu nulis tentang kesan saya terhadap lecturer of the smester. versi saya Sebenarnya masih bisa saja saya tulis tentang semester pertama saya, tapi let’s just skip it. Kenapa? Karena itu udah cukup lama lewat. Saya nggak lagi merasakan cokelat, strawbery, selai kacang, keju, maupun mentega, cuma serasa roti tawar aja kalo nulis tentang itu.

Semua yang ada di sini adalah dari menara mercusuar (sudut pandang) saya.

Dan lecturer of the semester saya jatuh pada dosen Pendidikan Pancasila. *prokprokprok*

Saya tidak akan menyebutkan nama asli beliau, saya menyebut beliau Pak ****. Yang khas dari beliau adalah setiap ada mahasiswa yang mengajukan pertanyaan, beliau akan mengatakan, “Oke, ada yang bisa berpendapat?” Trus kalo udah ada yang berpendapat dan dirasa masuk akal, beliau akan berkata. “Saya rasa itu jawaban yang benar.” Lalu beliau akan mengatakan sesuatu sebagai tambahan.
Teman-teman saya bilang Pak **** sebenarnya nggak tau jawabannya, makanya beliau bilang “Ada yang bisa berpendapat?”. Mereka juga bilang kalo Pak **** sebenarnya nggak cukup berkapasitas sebagai dosen. Tapi, terserahlah apa kata mereka. Kalo menurut saya justru cara mengajar Pak **** adalah cara yang cukup bagus. Dari 1-10 ya 8,5-lah. Mungkin beliu penggemarnya Socrates yang mendidik orang lain tanpa membuat orang yang dididiknya merasa digurui. Socrates ngasih pelajaran dengan cara nanya mulu kaya karyawan baru. Lalu setelah anak didiknya kasih jawaban, Socrates baru ngomong yang isinya membenarkan atau menyalahkan atau memperbaiki atau melengkapi atau menekankan poin-poin pentingnya. Samalah sama tugas meng-highlight, men-bold, meng-italic, atau meng-underline di Ms. Word. Atau sebagai editor in chief gitulah.

Tapi apapun dan bagaimanapun keadaan, pembawaan, dan metode ajar seorang dosen, yakinlah beliau bertujuan baik. Kalopun hasilnya nggak baik, nggak seperti yang diharapkan, itu bukan salah dosennya, tapi kitanya. Entah kita yang terlalu menyepelekan, menganggap santai, atau ogah-ogahan. Jadi stop blamming the lecturer for the failure of having stright A! Inti dari kuliah, sekolah, maupun belajar kan bukan di nilai, tapi seberapa banyak ilmu yang diserap. Nilai itu cuma bonus.

Ada satu hal yang agak bikin seret pintu hati saya *halah*. Itu adalah saat ketika salah satu dosen saya tanya "Winda, PIN BB kamu berapa? Nanti saya add, biar gampang kalo saya mau hubungi kamu."

Preketek!

Saya jawab, "Maaf, saya nggak pake BB."

Beliau jawab, "Ah, hari gini kok nggak pake BB."

Preketek!

Pengen banget saya teriak, "Hari gini kok nggak pake IPhone!"

Emang it's a must gitu pake BB for sake of BBM?? Smartphone selain BB banyak! Dan terserah saya dong kalo mau pake selain BB. Dan lagi, kalo emang mau hubungi saya, silakan lewat jalur yang sejalan sama yang saya punya. Saya nggak sebel atau apa, cuma risih aja gitu. Kan gadget apa yang yang kita pake, terserah kita, suka-suka kita.

Udah malem, satpam komplek barusan udah lewat. Jadi cukup sekian dan terima kasih.


Kamis, 30 Juni 2011

Tulis-Tempel-Lihat Hasilnya

Dosen saya bilang, “Jadikan dinding kamarmu sebagai gurumu”.

Maksudnya bukan bikin dinding kamar yang bisa ngomong, jelasin materi kuliah/ sekolah, ngajarin ngerjain soal atau gimana gitu. Tapi sebagai salah satu jabatan seorang pendidik, yaitu motivator.

Bikin tulisan-tulisan reminder, motivasi, target dan cita-cita, dan apa pun yang bermakna di dinding kamar sehingga sering dibaca, minimal diliatlah. Karena orang Jawa bilang “witing tresna jalaran saka kulina”.

Berikut cara-cara singkat nan menyesatkannya :

1. Pilih warna tinta dan kertas yang paling eye catching buat diri sendiri.
Contohnya tulisan dengan warna merah di kertas putih adalah yang paling bikin mata saya jreeenngg!, karenanya saya pilih kertas putih dan spidol merah sebagai teaching tools saya.

2. Tulis kata, frase,kalimat, puisi, maupun karangan apapun yang bermakna buat diri sendiri lalu tempel di dinding kamar.
Kata-katanya nggak harus yang puitis, penuh bahasa berliku-liku, keren, maupun cuma bisa dipahami dengan buka kamus thesaurus, tapi yang penting bermakna buat diri sendiri. Misalanya frase “going extra miles!”. Saya udah sering denger, baca, lihat frase itu, tapi frase itu benar-benar bermakna buat saya baru-baru aja, jadi saya baru tulis dan tempel frase itu baru-baru aja. Pemilihan kata jangan karena memburu keren, tapi karena memburu makna. Contoh lain, saya punya tempelan yang bunyinya “have you saved SOME COINS for your FUTURE?”. Kalimat itu nggak populer maupun dicetuskan oleh tokoh hebat dunia, tapi murni karena renungan jemuran saya. Dan karena kalimat itu benar-benar bermakna buat saya meskipun nggak keren, maka saya tulis dan tempel.

3. Bikin dengan tulisan tangan.
Biarpun tulisan tangan kita tak seindah cakaran ayam, tetap tulis dengan tulisan tangan sendiri. Karena seperti Snitch dalam Quiditch, tulisan-tempel akan lebih efektif dan work the best bila ada fingerprint kita di dalamnya. hasil penelitian Professor Albus Winda McGonagal Presti Dumbledore. Selain itu, dengan mengajak tangan bersusah payah menulis, itu akan lebih membekas di memori sehingga membuatnya lebih efektif. Ini karena kata-kata tersebut mengalami pengulangan berkali-kali, mulai dari pertama kali muncul di otak, perintah tangan buat nulis, perintah mata buat ngeliat pas nulis, perintah mata pas baca hasil akhir, perintah mata buat liat dan baca pas tempel, dan perintah mata buat liat dan baca tiap nengok ke dinding.

4. Selalu tulis kata-kata apapun yang muncul secara spontan di otak macam pop up.
Menurut Profesor Albus Winda McGonagal Presti Dumbledore, hasil pemikiran pop up itu adalah apa yang ada di alam bawah sadar sehingga itu sangat fundamental. Dan jika hal tersebut dimunculkan ke permukaan, hal tersebut akan bekerja sangat efektif dan akan memberi hasil yang menakjubkan, yang bahkan Paul si gurita peramal maupun Proffesor Sybil Trelawney pun nggak bisa meramalkan kekuatan kata-kata "pop up" tersebut. Dan salah satu cara membawanya ke permukaan adalah dengan membuat tulis-tempel itu.

5. Jangan malu sama tulisan apapun yang ditempel di dinding kamar.
Kalopun ada orang lain yang liat dan ngetawain, biarin aja. Toh mereka ketawa nggak pake tenaga kita kan? Mereka ketawa nggak bikin kita laper juga kan? “Terserah lo mau ketawain, tapi awas aja kalo lo ikut-ikut.” “Terserah aja lo ketawa, liat aja ntar kalo kata-kata yang sekedar kumpulan huruf ini bener-bener ada hasilnya”. “Terserah aja lo mau ketawa, tapi ntar kalo udah kejadian, awas aja kalo lo sampe bengong kaget”. “Terserah lo mau ketawa, tapi liat ntar buktinya”.

Sekian short-course kali ini. Meskipun bintang iklan entah siapa namanya mengatakan ini karena dibayar sama tukang susu bubuk, tapi ini benar adanya Trust me, It works!